Aku bertanya-tanya apa yang tersisa dari cinta yang kandas di tengah perjalanan?
Awalnya aku berfikir bahwa rasa cinta yang menggebu-gebu dari sepasang muda-mudi mampu bertahan sekalipun dalam rentan jarak. Aku berfikir bahwa cinta yang aku Agungkan adalah cinta yang tanpa memiliki pun aku merasa bahagia, cinta yang cukup hanya dengan melihatnya bahagia aku pun sudah bahagia.
Cinta Pertama yang mulanya tumbuh kemudian dibina dan susah payah dipertahankan keutuhannya akhirnya sirna. Kemana perginya semua itu? Cinta...Cinta Pertama, apa itu? Apakah itu hanya simbol sekedar sebutan nama agar terdengar manis, karna jikalau kenyataannya seperti ini aku lebih memilih untuk tidak pernah mengenal sang Cinta.
Aku pernah berada didasar lautan, namun kemudian ia datang dan mengajakku terbang bersamanya, hingga hampir sampai ia ku raih ku dihempaskan kembali bahkan sampai ke dasar lautan.
Dengan atau tanpa alasan apupun, dengan mudah ia permainkan hati dan perasaanku. Walaupun hanya tinggal dalam goa perasaan yang ku tinggali sendiri, perasaanku adalah seutuhnya milikku. Ia tidak berhak mengambilnya. Bahkan jikalau ia pernah ku pinjami bukan berarti ia memiliki..suatu apapun yang dipinjam terlebih itu adalah perasaan, suatu saat harus dikembalikan ditempat yang sama. Ah! Sakit hatiku memang salah ku sendiri. Aku bodoh, dan aku sadari itu.
Setelah sekian lama bersusah payah akhirnya aku bisa mengembalikan akal sehatku agar dapat memulai kembali kehidupan ku yang baru. Normal. Aku hanya ingin hidup normal. Jikalau batas normal ku adalah sebelum aku mengenalnya maka aku ingin kembali ke batas itu, ke titik itu dan bernyaman disana.
Namun yang pada akhirnya ku sadari hidup adalah pilihan, tak ada guna menyesali sesuatu karena hidup hanya perlu di'hidup'kan. Aku memilih untuk tidak lagi terjebak dalam permainan yang ku sebut Cinta.
Kini aku bahagia, meski terkadang ia datang menghadirkan petir disiang bolong ku yang gersang lalu menurunkan rintik hujan yang ia tahu dengan pasti akan selalu aku nikmati, membuat ku tak jarang ingin berlari ke dekapannya menatap wajahnya walau hanya sekejap.
Meski kadang ia datang mengetuk pintuku meminta ku menyembuhkan lukanya yang sama sekali bukan aku penyebabnya. Aku berfikir mungkin aku akan senang, seseorang yang pergi kini datang kembali. Tapi logika ku menolak. 'Bodoh' itu yang kerap ia katakan ketika aku selalu membukakan pintuku untuk orang yang sama.
Lambat waktu berjalan. Seiring dengan muncul dan terbenamnya matahari pergantian siang dan malam, musim kemarau dengan penghujan, ia yang datang kemudian pergi datang dan pergi entah kapan datang lagi? Dan aku yang mulai terbiasa..tidak sesak pun tidak senang.
Aku berfikir, apakah ia telah hilang? Cinta. Aku harap tidak, aku harap ia hanya bersembunyi dibalik awan putih dilangit yang sewaktu-waktu dapat tumpah ke bumi tanpa bisa dibendung.
Waktu memang penguji yang teruji. Namun kadang obat terbaik untuk mengobati luka hati bukanlah waktu, melainkan orang baru yang lebih baik.
Lalu, apakah ada orang baru yang kembali masuk ke kehidupanku? Entah..
Awalnya aku mengira bahwa Cinta ku adalah abadi, layaknya kisah romance dari negeri antabranta sana. Namun semakin ku gali luka yang ku miliki, aku mulai terbiasa dengan rasa sakitnya. Tiba-tiba aku takut tidak merasakan sakitnya lagi, dan ia akan sembuh hilang tak berbekas...entah kemana.