'They Asked me for drugs, so i told them about your smile'
Senyum yang tulus adalah pereda rasa sakit yang sangat ampuh. Terlebih senyuman itu dari orang yang kita sayangi.
Ah, aku punya masa lalu yang sedikit memalukan pun memilukan.
Sejak SD aku menderita penyakit yang cukup parah, hal itu membuatku menutup diri dari orang-orang sekelilingku termasuk teman sekolah ku dulu.
Aku menjadi begitu pendiam dan begitu lemah, tidak banyak hal yang bisa ku lakukan dengan baik.
Namun entah bagaimana cara Tuhan bekerja, di akhir masa putih-biru aku mendapatkan donor ginjal yang sempurna dari seseorang. Hal itu membuat semangat ku untuk hidup yang telah lama padam bangkit lagi.
Hari ini, disini, ditempat yang katanya akan melahirkan banyak kenangan indah yang akan dikenang sepanjang hidup. Aku akan menjadi Hana yang baru.
Dopping? Awalnya aku pikir itu hanya obat yang tidak jarang disalahgunakan pemakaiannya, tapi pikiranku berubah sejak saat itu. Aku seperti menemukan dopping dalam bentuk lain. Ialah mereka, Ari,Dika,Wina, dan Rere. Kami memutuskan untuk lebih dari teman bahkan sebelum genap satu minggu berkenalan.
Meski begitu, entah dari mana timbulnya keyakinan ini aku merasa merekalah cat minyak warna-warni yang siap meliukkan kuasnya diatas kertas gambar ku yang putih bersih. Dan saat-saat seperti ini lah yang aku tunggu, aku takkan menghindar lagi. Akan ku bagi dunia yang telah lama ku simpan untukku sendiri.
Sekarang mungkin sudah hampir 3 tahun kami saling dekat, saling berbagi, mendengar cerita satu sama lain dan melakukan hal indah bersama-sama.
Mereka lah Dopping, obat penghilang rasa sakit, penyembuh luka berdarah, dan sandaran tempat segala air mata tumpah tanpa perlu dibendung.
"Nangis aja, gapapa kok. Lo akan lebih baik setelah lo nangis"
Kata Dika suatu hari, kala aku menangis tersedu-tersedu perihal lelaki yang meninggalkanku tanpa malu.
Wina yang memelukku hangat seakan memberi kekuatan.
Tatapan mata Ari yang penuh makna seolah berkata
"Gue ngerti han. Gapapa nangis aja"
dan tundukan frustasi Rere seakan ia tidak terima sahabat permpuan yang kerap ia jaga disakiti hatinya.
Wah. Tuhan yang begitu luar biasa rupanya benar-benar menyayangiku, setelah ia kirimkan seseorang yang mendonorkan ginjalnya untukku kini ia kirimkan sahabat seperti mereka.
Terimakasih Tuhan. Aku bahagia.
Tiap kali berpergian dengan mereka selalu menarik, ada saja pembicaraan yang membuat tertawa kadang juga sedih. Hidup! yaa..bersama mereka aku selalu merasa lebih hidup.
Libur panjang ini kami manfaatkan dengan baik.
Kami bermain, dan makan bersama sambil bertukar cerita seperti yang kerap kami lakukan.
Giliran ku bercerita, mereka mendengarkan sambil menyeruput minuman sesekali.
Namun entah apa yang ada dipikiran Ari hingga akhir ceritaku ia tetap menatap ke arahku tanpa beralih sedetik pun.
Aku menyadarinya tapi tidak ingin menganggapnya terlalu serius. Atau belum ingin.
Setelah beberapa lama akhirnya ia tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya.
Apa artinya ini? Aku tidak tahu....
Mata Ari yang kecil nyaris hilang ketika ia mulai tersenyum. Senyum yang merekah.
Senyuman yang manis, sangat manis. Begitu pula Ari-nya.
Meski tidak seperti Rere yang ketampanannya di akui disekolah Ari lebih seperti permata yang belum ditemukan.
Dan dalam hatiku, aku berharap semoga ia tetap dipersembunyiannya agar ia tetap menjadi permata dan tidak ada yang menemukannya.
Seperti itulah keegoisanku, tapi ini demi Ari. Demi permata bernama Ari yang berharga.
Aku tersenyum, meski ku sadari keegoisanku tapi aku yakin kali ini demi Ari.
Hari-hari berganti, semakin dekat dengan kelulusan.
Kami semakin intens bersama, karena hal-hal seperti ini akan sulit ketika sudah berpisah.
Ari.
Aku memimpikannya 2 malam berturut-turut.
Saat ini ia ada tepat disebelahku, tiba-tiba aku merasa ada yang berbeda.
Ya..aku pun baru menyadarinya, sejak aku mulai berpikir,
"Gue harus ngomong apa ya sama Ari?"
"Balesnya gimana ya biar jadi lama chatnya?"
Dan mulai membaca berkali-kali balasan pesan yang akan ku kirimkan kemudian menghapusnya karena merasa ini kurang 'baik', bahasanya tidak 'baik' dan hal-hal bodoh lain atau semacamnya.
Ari adalah tembok pendengar yang baik, tempat curhat terbaik yang pernah aku miliki.
Aku sempat lebih dekat dengannya saat aku rapuh kala itu, ia selalu memotivasi dan menyemangatiku.
Tapi aku tidak mengira akan menjadi seperti ini.
Sepertinya keegoisanku agar Ari tetap sembunyi adalah karena aku takut, jika orang lain menyadari bahwa ia permata dan ingin memilikinya.
Keegoisanku bukan demi Ari, tapi demi diriku sendiri.
Bagaimana pun juga, berada didekat Ari adalah hal yang terpenting. Entah itu sebagai teman, sahabat, atau mungkin kekasih itu adalah kesekian.
Aku ingat dengan baik saat Ari berkali-kali menguatkan aku, dan mendewasakan pemikiranku.
Ia benar-benar luar biasa.
Kadang aku berpikir,
'Kenapa semua yang dia bilang selalu benar?'
Aku iri dengannya, energinya selalu positif dan menenangkan.
Meski ia jarang bicara, tapi kehadirannya selalu dinantikan.
Ia tidak pandai berinteraksi atau menanggapi celotehan Dika atau Rere, tapi tiap kali kami berkumpul Ari lah yang lebih dulu aku dan Wina hubungi.
Bersama Ari selalu aman, begitu kata Wina.
De ja vu.
Aku seperti melihat Ari beberapa waktu yang lalu.
Bedanya kali ini, Wina yang ada dalam genggamannya.
Wina menampati posisiku, kalimat-kalimat penyemangat yang pernah Ari katakan untukku ia katakan juga untuk Wina.
Aku mengerti.
Wina butuh sosok Ari sekarang, seperti aku membutuhkannya dahulu.
Setelah Wina mulai bangkit dari persoalannya, ia belum juga lepas dari Ari.
Sahabatku Wina gadis yang menyenangkan selera humornya tinggi, meski tidak begitu pandai dalam pelajaran tapi ia pintar bicara dan menghidupkan suasana.
Ia adalah otak dari segala kegilaan yang telah kami lalui bersama. Dan sifatnya berbanding terbalik dengan Ari.
Mungkin mereka merasa saling melengkapi dan dengan dengan mudah merasa nyaman satu sama lain.
Karena dibanding bersama dengan ku sepertinya Wina lebih baik.
Ketika aku dan Ari bersama bahkan suara jangkrik pun akan lebih terdengar nyaring.
Aku bukan pendiam, hanya tidak bisa memulai duluan sedangkan Ari tidak pernah bisa memulainya duluan.
Jadi biarlah...
Biar aku mengalah bahkan pada hal yang belum aku mulai.
Pengecut? bukan..
Aku hanya belum memiliki keberanian. Tapi nanti, suatu hari nanti.
Aku, Arsili Hanaya pasti akan dapatkan keberanian itu.
Seperti arti namaku.
Langit hanya ada satu diseluruh jagad raya ini.
siang, malam, matahari, bulan, bintang, pelangi hanya sebagai hiasan.
Begitu pula dengan cinta, hanya satu memang.. Namun hiasannya yang banyak. Terkadang justru lebih banyak dari cinta itu sendiri.
Ada banyak hal yang akan didapat ketika kita memilikinya namun ada lebih banyak hal lagi yang kita dapatkan ketika kita mampu melepasnya.
Jangan tanya alasan kepada ku. Cinta ku hanya hiasan kecil dalam lautan cinta dan kasihnya. Jika aku memaksakan diri untuk memilikinya
bukan hati yang terluka lah yang paling menyedihkan,
tapi kekosongan yang tidak bisa diisi dengan kebahagiaan.
Aku berkata bukan tanpa dasar, aku merasakannya sendiri hingga akhirnya memaksaku mundur teratur dari orang yang mulanya adalah sahabatku yang kemudian ku sadari ia hanya akan tetap menjadi sahabatku.
Dan selamanya tidak akan berubah.
Yang aku tahu, senyum sahabat-sahabatku Ari terutama...akan selalu menjadi dopping dalam hidupku.