Dedicated to everyone who wonders if i'm writing about them. I am.

Selasa, 26 Desember 2017

Layang-layang

Seandainya kau tahu.. layang-layang pun tak ingin menjadi layang-layang yang dibuat, dipercantik untuk sekedar dipermainkan. Dipertontonkan. 
Ia juga sesekali ingin untuk dipertaruhkan, terlepas dari resiko memutus atau diputus sama imbang yang dimilikinya.

Aku pun sama.. 
Hanya sekedar ingin dipertaruhkan, diperjuangkan bukan dengan membiarkanku menggantung mengatung-atung.

Bila ingin aku pergi, baiklah. 
Namun jangan datang dengan menguak sesuatu yang susah payah telah ku jadikan kenangan.
Jangan bangkitkan lagi perasaan yang dengan sekuat tenaga aku tahan.

Aku lakukan apa yang bisa ku lakukan untukmu. 
Kau memberi satu, aku balas dengan dua, tiga, empat, lima. Meski tak juga kau rasa sama.

Kau biarkan aku terbang tinggi, kemudian menjatuhkanku berkali-kali.

Jika memang tidak lagi diinginkan, aku dengan rendah hati akan mundur perlahan.
Tanpa keras kepala, tanpa keegoisan.
Demi kamu. Demi aku. Perasaanku.

Apa yang sekiranya bisa diharapkan dari mengikat sesuatu dengan sesuatu yang belum pasti?
Seolah digenggam namun tak tergenggam, seolah dihempas namun tak terhempas. Ingin dibuang pun namun rasanya sayang.

Sama dengan perasaan.
Perasaan yang gantung mengatung-ngatung hanya akan membuatku bingung, membuatku linglung.
Maka putuskan taliku yang telah terlalu lama kau ulur, agar aku jatuh ke bawah sampai terbentur. 
Atau, tarik taliku yang telah terlampau jauh kau ulur untuk kembali lagi dalam genggaman yang kau gulung.

Karena aku bukan layang-layang, 
biarkan aku pergi jika memang ingin aku pergi. Jangan menahanku dengan sesuatu yang bahkan kau sendiri belum yakini.

Bukankah sesuatu yang sudah dilepas harusnya dibiarkan bebas?
Sebaliknya, bukankah sesuatu yang tidak ingin kau lepas harusnya kau jaga dengan ikhlas?

Aku bukan layang-layang.
Yang dibuat, dipercantik, untuk dipermainkan. Dipertontonkan.
Aku adalah aku dengan segala kuasa penuh atas diriku, atau kini dirimu?

Ditarik, diulur, diputus, memutus. Begitulah nasib layang-layang. 

Tapi tahukah kau  apa yang lebih menyedihkan dari itu semua?
Ketika layang-layang itu putus atau terputus, orang-orang hanya akan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Sangat biasa.

Mereka akan berkacak pinggang berbalik badan dan bubar teratur seolah tidak pernah ada yang terjadi.

Ah. Aku bisa membelinya lagi. Lain kali.
Pikir mereka