"Lebih baik sekarang pastiin dulu, rasa yang ada itu beneran atau cuma sekedar penasaran".
Ya. Skakmat!
Kata-kata yang singkat ini membuat ku terdiam kemudian berfikir, ya..sebenarnya apa yang terjadi kepadaku? apa yang aku rasakan, ah tidak...bagaimana perasaanku? sungguh kah, atau hanya penasaran kah?
Aku bertanya pada manusia, tapi tak ada jawaban.
Aku bertanya pada langit, namun langit tak mendengar.
Akupun diam.
Ku tertunduk dalam keresehan yang memilukan.
Ia ada, ia dekat, sangat dekat. Aku bahkan dapat menyentuhnya, menatap wajahnya, melihat senyumnya, tapi semua terasa hambar.
Ketika belasan pesan masuk ke ponsel ku, ketika ucapan selamat pagi menghangatkan pagi ku,
ketika kalimat penyemangat mengalir bagai air tanpa bisa ku bendung, dan ketika ucapan selamat beristirahat mengiri tiap tidur malam ku.
Ku sadari sudut bibir ku terangkat, membentuk bulan sabit atau mungkin semacamnya.
Aku tahu ada hati yang berdegup lebih cepat ketika mengirim pesan-pesan itu.
Maka setiap pesan yang ku terima selalu ku balas.
Bukan, bukan balasan atas jantung yang berdegup lebih cepat itu.
Tapi lebih sebagai rasa terimakasih atas apa yang telah ia lakukan.
Hanya sebatas itu.
Sebagai seorang gadis, aku kejam bukan?
Tapi harus bagaimana lagi?
Aku tahu..aku sungguh tahu seseorang sedang bermain hati denganku.
Aku pun ingin masuk ke dalam permainannya, membuat alurnya berdua, dan mengakhiri kisahnya dengan bahagia. Berdua.
Tapi keinginan hanya sebatas keinginan.
Hatiku mendingin, hatiku membatu.
Ia seperti membentuk gunung es yang begitu tangguh.
Bahkan, mungkin jika kapal Titanic ingin mengulang sejarah dan kembali bertabrakkan dengan gunung es yang ku ciptakan di hatiku, hasilnya akan tetap sama.
Ribuan jiwa akan mati, ribuan lagi kehilangan anggota keluarga dan seluruh dunia berduka.
Aku sungguh tidak mengerti.
Sebelum hatiku mendingin dan menjadi batu,
juga jauh sebelum ia sedekat ini.
Perhatian darinya selalu spesial.
Ucapan selamat dalam bentuk apapun itu selalu ku nantikan.
Tapi ketika ia dekat, bahkan begitu dekat.
Semuanya hilang.
Layaknya pasir pantai yang kerap tersapu air laut.
Mungkin ini salah ku hanya menulis namanya di bibir pantai, tidak sampai hati ku sadari bahwa air laut akan dengan cepat menghapusnya.
Tapi yang pada akhirnya ku sadari adalah.
Selama ini aku hanya mencoba untuk meraihnya tanpa berharap bisa memiliki.
Pencapaian terbesar ku adalah ketika ia mengakuiku, bukan ketika ia memberiku apa yang ia miliki.
Maka ketika ia benar-benar memberi hatinya untuk ku, aku tidak tahu harus berbuat apa.
Karena sejatinya bukan itu yang benar-benar ku inginkan.
Aku sadari dan aku akui,
bukan ia yang bermain hati denganku, tapi aku lah yang memulainya.
Ia hanya terjebak, terperangkap, dan tidak menemukan jalan keluarnya.
Bagi ku sekarang, ketika apa yang ingin ku lihat telah ku kihat.
Apa yang ingin ku tahu telah ku ketahui.
ketika pencapaian ku telah tercapai.
Dan ketika rasa penasaran ku telah terpenuhi.
Tidak ada lagi alasan bagi ku untuk menerima perhatian kasih dan sayangnya.
Dan satu-satunya hal yang bisa dan harus ku lakukan hanya lah mengakhiri keegoisan ku.
Aku pun berhenti.
Ya.. Ternyata bintang sepertimu hanya indah dipandang dari kejauhan. Ketika kau dekat, ketika kau berada dibawah, sejajar dengan yang lainnya.
Kau terlihat biasa saja.
Kau membuat rasa penasaran ku berakhir.
Maka akan ku kembalikan kau pada posisimu.
Dimana semua orang akan memandang indah dan berdecak kagum akan keindahan mu.
Dan kamu, tetaplah disana.
Jangan pergi, jangan kemana pun,
agar kau tetap indah. Setidaknya ketika ku melihat mu lagi. Suatu saat nanti.
Karena mungkin, rasa penasaran yang lebih hebat akan muncul dengan tiba-tiba.