Dedicated to everyone who wonders if i'm writing about them. I am.

Kamis, 24 Juli 2014

Hipotesis

"Ayu...kita sekelas lagi". Ucapku dengan bahagia sembari memeluknya, "iyaaa wid...aaa seneng banget", balasanya menyambut pelukanku.
Hanamori Rahayu, gadis mungil nan cantik yang ku kenal sejak pertama menginjakkan kaki di SMA Cipta Harapan. Namanya se ayu parasanya, Ayu gadis yang sempurna.
Kecantikan hati terlihat dari tutur katanya, kecantikan wajah terpancar dari wajahnya, dan terpenting kecantikan Ayu terkemas rapih dengan kepintaran dan pengetahuan yang luas. Tak jarang para lelaki kerap menggodanya pun guru-guru yang begitu menyayanginya. Aku iri? jelas. Tapi setiap orang punya 'cantik'nya masing-masing, setidaknya itulah ungkapan yang bisa menghiburku.
Di kelas 12 IPS 4 ini semua bermulai....
Aku,Ayu dan Ata. Entah seperti apa takdir kita bertiga kita kembali ada dikelas yang sama, meski terkesan biasa namun lambat ku sadari takdir ini tak biasa bagi Ayu.
Hari itu,
"eh nonton yuk.."
Ata mengajakku dan Ayu. Aku jelas tak menolak, ku lihat semburat bahagia terpancar dari wajah Ayu ketika hendak duduk diboncengan motor Ata.
Aaah..jatuh hati rupanya!:-)
Hipotesisku yang bersifat sementara ini biar ku simpan sendiri, sampai nanti ada bukti yang lebih kuat baru lah biar semua orang tahu.

Ayu duduk disebelah Ata, Ata duduk disebelahku. Sembari menonton film yang sedang diputar, Ata merangkulkan tangannya dipundak Ayu sambil terkadang menyuapi popcorn yang sedari tadi ada di genggamannya.
Aku? Aku hanya tersenyum. Seperti itu lah Ata, bersikap manis kepada wanita tapi bukan sembarang! hanya tertentu, dan Ayu termasuk didalamnya. Aku jelas dapat membedakan mana Ata yang menggunakan hatinya dan mana yang tidak. Dengan Ayu kali ini aku merasa Ata tidak. Atau mungkin belum.
Tapi biar, biar ku lihat bagaimana perkembangannya. Mungkin hipotesis sementara ku yang salah.
"Udah malem Wid, gue anter Ayu pulang dulu ya. Lo kan bawa motor" .
Aku mengerti, Ata dan Ayu meninggalkan ku. Sendiri.

Hah! kadang aku berfikir apa aku terlalu mandiri? Karena sikap tidak ingin menyusahkan orang lain-ku tak jarang posisiku disejajarkan dengan laki-laki. Biarlah, mereka hanya lupa kalau aku juga wanita. Oke ini ngaco.

Hari demi hari, berganti bioskop yang satu ke bioskop yang lain kejadiannya tetap sama.
Hipotesisku belum juga berubah.
Lalu bagaimana dengan Ayu?
Ah..Ayu semakin melambung tinggi.

Scene manis antara Ayu dan Ata terus berputar dihadapanku baik dikelas, dibioskop, dan dimanapun mereka berada.
Ata yang rela mengantar Ayu membetulkan handphonenya yang rusak, mengantar Ayu pulang ke rumahnya usai mengerjakan tugas kelompok ataupun usai sekedar kumpul dengan temannya-temannya.

Walaupun begitu, aku masih pada hipotesisku.
Ata yang tanpa hati dan Ayu yang tulus menggunakan hatinya.
Pada akhirnya yang paling banyak menggunakan hati ia lah yang akan lebih terluka. Begitulah hidup, begitulah cinta.

Hingga pada suatu waktu aku mulai merasakan ke galauan Ayu, dari semua sosial media yang Ayu punya. Dan semua hanya mengarah ke satu titik.
Kemana Ata pergi?
Kemana perginya Ata setelah bikin gue terbang setinggi ini?
Seenaknya mainin hati gue....dan sekarang lo pergi?
Ata, gue udah sayang sama lo dan lu cuma anggep gua main-main?
Lo anggep gue apa ta?
Ata..Ata?
Ata
Kalimat-kalimat yang intinya seperti itu namun disampaikan dengan lebih halus.
Ayu galau. Dan entah bagaimana Ata.

Saat itu aku tidak terlalu menggubris ke galauan Ayu, tidak menyetujui tidak juga mencibirnya. Aku biarkan Ayu mengekspresikan kesedihannya dengan caranya sendiri.
Bukan, bukan berarti aku tidak peduli jelas aku peduli.

Ayu adalah bagian terpenting dimasa SMA-ku, Ayu bagaikan tumpukan puzzle yang ku punya walaupun banyak, dan Ayu adalah bagian terkecil tapi tidak akan menjadi utuh tanpanya.
Aku dan Ayu sudah banyak bicara tentang cinta dan jatuh cinta sebelumnya, dimana hati yang tidak sengaja patah bahkan sebelum sempat bersatu adalah resiko terbesarnya.
Aku rasa Ayu mengerti.
Untuk itu dalam hal ini dalam cerita berbingkai friendzone ini aku menolak ambil bagian. Biar Ayu dengan segala kedewasaannya yang akan menyelesaikan ini semua.
Aku ingin berteman, yang meringankan keresahan bukan melemahkan.
Dan saat Ayu lemah, dengan semua masukan yang pernah aku berikan aku ingin Ayu bangkit dengan kekuatannya sendiri.
Aku percaya Ayu bisa.

Selang beberapa bulan.

Setelah berapa lama tidak mendengar kabar tentang kisah yang rumit ini, tiba-tiba Ayu mengajakku bertemu.
"Kangen wid, meet up yuk!"
Aku pun tidak menolak.

Dan.
Dipertemuan hari ini lah aku rasa hipotesisku selama ini telah salah.
Screenshoot yang entah ada berapa banyak diperlihatkan semua oleh Ayu, aku mengerti apa yang Ayu rasakan dan aku dapat menyimpulkan..
Ata is a good player. :-)

Aku baru menyadarinya karena Ata baik dalam perannya, terlalu baik bahkan. Entah itu nyata atau tabu. Yang buat ku tersadar adalah 3 tahun mengenal Ata tidak berarti aku mengenal dia seutuhnya.
Aku lupa atau sengaja lupa bahwa selalu ada sisi tergelap dari diri seseorang tentang dirinya sendiri yang tidak bisa disentuh.
Seketika muncul pertanyaan,

"Jadi sebenernya Ata juga suka sama Ayu? beneran gak sih?"
Tidak ada yang tahu persis, kecuali Ata.
Sejak hari itu ku patahkan hipotesisku dan berhenti untuk menebak-nebak.
Biar ia berjalan seiringan dengan detak waktu yang terus berganti. Hah. Lagi-lagi tentang waktu.

Hanya satu yang aku harapkan agar Ayu dapat berdiri diatas kakinya sendiri dengan kepercayaan diri baru yang lebih dan berlipat ganda. Semoga tidak bertemu Ata-Ata lain yang mengungkapkan sayang dengan mudahnya lalu entah bagaimana kelanjutannya. Hanya,
"I love you yu" dan seketika hilang.

Pada akhirnya, jika memang dulu diantara kalian yang tumbuh adalah cinta, maka biarkanlah ia terkubur dalam-dalam. Jangan biarkan ia menyeruak dan membangkitkan luka lagi.