Dedicated to everyone who wonders if i'm writing about them. I am.

Sabtu, 10 November 2018

Aku Tentang On Your Wedding Day

Sekitar beberapa hari yang lalu akhirnya kesampaian juga nonton film On Your Wedding Day yang ditulis oleh Lee Seok Geun. Lead actor dan actresnya ini udah sering main drama Korea jadi sangat tidak heran kalau film ini dinanti-nanti perilisannya. Karena review sudah banyak bertebaran, jadi kali ini gak akan ikut-ikutan nge-review tentang film ini hanya ingin mengungkapkan sedikit pandangan tentang film yang akhirnya bisa bikin nangis setelah sekian lama gak nangis. Hhhh

Seperti yang sudah diketahui film ini berani memberikan ending yang pahit tapi manis buat para penontonnya, hal ini sesuatu yang tidak biasa tentunya karena  para penonton drama Korea biasanya lebih suka sama ending yang manis dan kirim pesan ke writer-nimnya bilang "jebal writernim biarin si A sama si B bersatu." hhhh lemah!!

Tapi tidak dengan film yang satu ini. Setelah Hwang Woo Hyeon (Kim Young Kwang) justru berhasil masuk universitas terbaik di Korea Selatan untuk bisa bertemu lagi dengan Hwan Seung Hee (Park Bo Young), Woo Hyeon harus menerima kenyataan kalau Seung Hee sudah punya pacar. Tapi sebagai laki-laki yang belum bisa melepas cinta pertamanya begitu saja Woo Hyeon tetap ada di samping Seung Hee di saat Seung Hee merasa terjatuh dan kehilangan arah baik karena laki-laki pun karena kehidupannya sebagai mahasiswa di Univerisitas yang tidak pernah mudah.

Sebenernya menurut gue sih, di film ini yang jadi masalah cuma timing. Saat bertemu lagi di Universitas Seung Hee punya pacar. Saat akhirnya Seung Hee putus, Woo Hyeon harus masuk wajib militer. Setelah pulang wajib militer, gantian Woo Hyeonnya yang punya pacar. Jadi semacam tidak ada ruang bagi mereka berdua untuk mengungkapkan perasaan satu sama lain, meskipun keduanya sama-sama memahami ada yang tidak biasa di antara mereka berdua.

Yang membuat penonton bahagia adalah adegan ketika Woo Hyeon rela menjadi supir untuk antar Seung Hee bekerja lebih tepatnya sih shooting di salah satu daerah. Saat itu Woo Hyeon menunjukkan dia lebih memilih Seung Hee dari pada pacarnya. Saat di jalan ada satu kejadian yang membuat Seung Hee menyadari bahwa perasaan Woo Hyeon masih sama dan tidak berubah. Mungkin hal ini sangat tidak adil untuk pacarnya Woo Hyeon ini tapi untungnya tidak lama berselang digambarkan bahwa Woo Hyeon memilih putus dari pacarnya dan mengakui hal itu dikarenakan dia lebih memilih Seung Hee.

Sebagai perempuan, pastinya Seung Hee tidak ingin menjalani hubungan dengan teman lama yang sudah hampir banget jadi pacar. Khawatir akan kecewa atau kesakitan-kesakitan lain yang justru membuat keduanya berjarak. Mungkin Seung Hee  merasa lebih nyaman untuk terus berteman dekat, saling mendukung kehidupan satu sama lain. Seperti yang dilakukan selama ini.

Tapi seperti yang selalu orang-orang bilang, laki-laki dan perempuan tidak mungkin bisa berteman. Pasti salah satunya ada yang merasa lebih. Nah! Ini berlaku buat Woo Hyeon, terutama setelah dia resmi putus dari pacarnya. Saat itu Woo Hyeon benar-benar menunjukkan bahwa cintanya dari jaman SMA tidak berubah. Perasaannya masih sama, dan perempuan yang dia sayangi hanya Seung Hee. Ia merasa menjadi manusia yang lebih baik setelah mengenal Seung Hee, bahkan bisa masuk Universitas bergengsi meskipun saat SMA sempat menyerah untuk belajar.

Perempuan seperti Seung Hee pun perempuan lain juga akan luluh apabila terus menerus diberikan kasih sayang. Seung Hee tidak cukup bodoh  untuk melepaskan laki-laki setulus dan sekeukeuh Woo Hyeon. Akhirnya penantian dan perjuangan Woo Hyeon membuahkan hasil. Tidak ada yang sia-sia. Penonton pun bahagia,

Ternyata sama seperti penggambaran di filmnya yang singkat sekali, hubungan Woo Hyeon dan Seung Hee yang baru saja resmi dan bersemi harus kembali gugur hanya karena satu kesalahan. Memang sih tidak bisa dipungkiri saat itu kondisi Woo Hyeon sedang jatuh, sudah lulus kuliah tapi belum juga dapat pekerjaan. Sedangkan teman-temannya sudah ada yang menikah, bekerja, dll, Tanpa bermaksud merendahkan diri namun pasti siapapun yang ada dalam kondisi tersebut merasa tertinggal dan akhirnya mencari objek untuk melampiaskan kemarahan yang justru harusnya dialamatkan ke diri sendiri.

Tidak bisa dipungkiri, Seung Hee yang saat itu merasa dipersalahkan atas segala ketidak beruntungan dalam hidup Woo Hyeon pun merasa sedih. Bagaimanapun ia kecewa ketika laki-laki yang ia berikan kepercayaan untuk memiliki hatinya dapat menyakiti dirinya dengan satu kata-kata yang mungkin akan terus membekas dalam hidupnya, selamanya. Sebagai perempuan Seung Hee pun melepaskan Woo Hyeon meskipun Woo Hyeon sendiri sudah berkali-kali minta maaf dan mengakui kesalahannya. Adegan terperih saat Woo Hyeon berlutut di depan Sung Hee sambil memegang tangan Sung Hee namun ia tidak lagi ia temui couple ring di jari manis Sung Hee. Tepat saat itu Woo Hyeon sudah menyadari bahwa Seung Hee sudah melepaskannya. 

Meskipun dengan tanpa ragu Seung Hee berjalan memungguni Woo Hyeon tapi ternyata di balik itu semua sebenarnya Sung Hee menangis. Ia kehilangan sahabat sekaligus orang yang dicintainya, sedangkan Woo Hyeon masih terpaku mengingat ia kehilangan dunianya. Semangat hidupnya. Orang yang menjadikannya seperti sekarang ini.

Setelah mereka putus Seung Hee mengambil kesempatan dari perusahannya untuk bekerja di Belgia. Kehidupan Woo Hyeon pun sudah mulai membaik, ia bekerja sebagai guru olahraga mengingat saat kuliah mengambil jurusan pendidikan jasmani. 

Singkat cerita

Saat kembali dari Belgia Seung Hee menemui Woo Hyeon di tempatnya mengajar, ia menyampaikan bahwa tidak lama lagi akan menikah dengan rekan kerjanya selama di Belgia. Kabar bahagia yang mungkin menyakitkan untuk Woo Hyeon, namun akan lebih baik disampaikan dan didengar secara langsung dari pada melalui orang lain.

Akhirnya surat undangan pernikahan tersebut tiba juga di sekolah tempat Woo Hyeon mengajar. Sambil membaca nama yang tertera pada undangan di tangannya, Woo Hyeon hanya tersenyum tipis yang justru mengguratkan banyak mana. Adegan ini juga merupakan awal dimulainya film ini. Jadi istilahnya mah Woo Hyeon ini lagi flash back. Tapi dia yang flash back kita yang nangis. hhhh

Bagaimanapun Woo Hyeon tetap laki-laki biasa, ditinggal menikah oleh perempuan yang menjadi segalanya baginya bukanlah hal mudah. Setalah uring-uringan berhari-hari ditemani oleh teman-teman setianya, akhirnya Woo Hyeon menyadari bahwa lari dari kenyataan tidak akan ada garis batasny. Ia bangkit dan memutuskan untuk memberkati pernikahan perempuan yang paling ia sayangi. Entah apa yang menjadi titik balik ia melakukan itu semua. Namun itu adalah hal terbaik, terbijak, terdewasa yang bisa dipelajari dari Woo Hyeon.

Masih ditemani teman-temannya ia memasuki tempat pernikahan Seung Hee, dengan bantuan teman-temannya ia bisa memiliki kesempatan untuk mengungkapkan hal yang sudah berkali-kali ia pikirkan. Ia datangi Seung Hee dengan senyum paling tulus yang pernah ada, ia duduk tepat di depan Sung Hee yang memakai gaun pengantin. 

"Hwan Seung Hee aku benar-benar menyesali banyak hal, karena menyakitimu. Karena mengatakan aku menyesal bertemu denganmu. Sejujurnya itu adalah kebalikannya. Aku benar-benar bahagia akhir-akhir ini, mengajar anak-anak juga sangat menyenangkan. Itu semua berkatmu. Aku mendapatkan mimpi baru karenamu, berkuliah, bertemu teman baik, dan juga menjadi guru. Kau mengubah diriki menjadi diriku saat ini. Aku menyia-nyiakan hidupku, tapi kau membuatku menjadi seorang manusia. Terimakasih telah mampir dalam hidupku, Hwan Seung Hee. Berbahagialah. Berbahagia selalu."

Lalu saat Woo Hyeon akan pergi, Seung Hee membalas perkataan Woo Hyeon,

"Sebenarnya saat aku mengunjungimu di sekolah, ada yang ingin ku katakan kepadamu. Setiap kali aku kesepian, kehilangan arah dalam hidup, melupakan mimpiku, saat aku tersesat, kau selalu disisiku. Hwang Woo Hyeon, terimakasih banyak."

Tidak mudah untuk turut berbahagia saat kita justru merasakan sakit atas kebahagiaan itu. Namun dengan menyadari, mengakui, menerima kenyataan dan mampu menyikapinya secara dewasa, serta ikhlas untuk melepas orang yang kita sayangi pada akhirnya akan membuat kita dapat menjalani hari-hari. Seperti atau pun tidak seperti sedia kala. Karena terus memaksakan pun tidak akan membuatnya kembali maka biarkan iringan doa terbaik yang menjadi pengganti.