Dedicated to everyone who wonders if i'm writing about them. I am.

Sabtu, 01 November 2014

Kadang Jarak Memang Perlu

..I know you somewhere out there, somewhere far away..

Hay kamu yang sekarang jauh disana, terpisah ratusan bahkan ribuan kilometer dari tempat ku berada.
Apa kabar? Semoga kamu senantiasa sehat dan tetap penuh semangat mensukseskan dirimu.

Akhir-akhir ini ada sesuatu yang memang coba ku hindari, sesuatu yang masih harus ku yakini entah itu keberadaannya, siapa namanya? dan bagaimana wujudnya?

Aku berlari ke arah yang berlawanan darinya.
Jika ia selatan maka ku utara, jika ia barat maka aku timur.
Tapi ketika sesaat ku berhenti, kami berjumpa di satu titik dimana matahari ditempat kami sama-sama terbenam.
Ya, saat itu malam hari. Ku pandang langit yang kehitaman, banyak bintang disana.
Rasi bintang yang entah apa namanya membentuk simbol-simbol indah. Bulan sabit malam itu juga tak kalah, ia melengkung sempurna seperti tersenyum ke arah ku.
Senyuman yang sepertinya sudah sangat ku kenal. Kamu, Iya kamu.

Aku sadar sejauh apa pun jarak, selama kita masih ada dibawah langit yang sama. Maka apa yang ku lihat itu pula lah yang kau lihat.
Berbekal kepercayaan diri, malam itu aku duduk sendiri beratapkan langit dan beralaskan bumi.
Memikirkan apa yang telah ku lakukan selama ini, benarkah? salahkah?
Aku memikirkan sikap ku yang mungkin terkesan meninggalkanmu, mengabaikanmu. Hanya karena kau jauh. Dan tidak terlihat.

Aku banyak berfikir malam itu, aku merenung dalam kesendirian. Ditemani angin malam yang kian menusuk, juga secangkir kopi panas agar ku tetap terjaga berlama-lama memikirkan mu. Memikirkan ku, memikirkan kita.

Terkadang aku merindukanmu, disela-sela kesibukanku yang entah seberapa banyak tak perlu ku jelaskan.
Bahkan terkadang aku juga memimpikanmu.
Meski aku tidak pernah menggubrisnya. Hanya bunganya tidur.
Bisikku dalam hati.
Tanpa sadar, sebenarnya aku sedang menolak kenyataan.

Sampai malam menjelang pagi ini akhirnya ku mendapatkan benang merah dari apa yang telah dan sedang terjadi.

Tidak ada guna aku berlari.
Karena itu hanya membuat ku lelah dalam pelarian.
Karena sesuatu yang selama ini dengan susah payah coba ku hindari dapat datang kapanpun ia mau.

Hay kamu, aku masih terjaga hingga pagi. Mungkin sebentar laki ayam akan berkokok tanda pagi sudah tiba.
Tapi aku tidak peduli, aku masih larut dalam pikiranku sendiri.
Tentang betapa egoisnya aku, betapa bodoh, dan tidak berperasaannya aku.

Namun dibalik itu semua.
Dengan terciptanya jarak aku jadi menyadari...

Ternyata yang ku butuhkan hanya waktu, untuk sekedar merindu.
Jarak untuk tetap berharap ada waktu yang tersisa untuk tiap detik pertemuan dua jantung yang berdetak.

Dan kamu ciptakan itu. Meski sempat membuat ku ragu.
Hingga sempat aku berlari, meski sempat ku sembunyi namun kenyataan mengejarku dan kamu akan selalu menemukanku.

Ternyata memang kamu yang selalu ada tanpa perlu aku minta. Kamu yang selalu menemukanku meski tanpa ku beritahu
'Aku sedang sembunyi, ayo cari aku',
Kamu yang mengikatku tanpa perlu membuatku sesak, kamu yang mengawasi ku dari kejauhan tanpa perlu membuat rantai untuk itu.
Aku sudah dewasa, dan kamu menyadari benar itu.
Lebih dari itu semua, ternyata kamu yang mengerti diriku lebih dari diri ku sendiri.

Jarak yang tercipta, aku yang menghindar tidak pernah kau permasalahkan.
Karena percayalah, perempuan sepertiku hanya perlu waktu untuk menyadari betapa berharganya seseorang ketika sudah pergi.

Atas segala yang telah terjadi akhirnya aku mengerti keberadaan, nama, juga wujudnya disatu waktu.
Ia disebut Cinta, keberadaannya tepat dihati setiap manusia, ia datang kapan saja dan dimana saja, ah! iya juga tidak berwujud, tapi ketika kamu merasakannya, kamu akan tahu bahwa itu cinta.
Dan aku merasakan itu di kamu.

Kemudian, teruntuk kamu yang mungkin masih terlelap. Ku ucapkan selamat pagi paling tulus tertanda bahwa aku sangat merindumu di pagi buta. Cepat pulang, cepat kembali, dan jangan pergi lagi!

Ciptakan jarak, dan selamat jatuh cinta. Karena sejatinya jarak memang perlu.

Dari aku yang merindu.

Kemudian ku terlelap.