"Jika persahabatan berlangsung lebih dari 7 tahun, maka persahabatan itu akan berlangsung seumur hidup."
Begitulah deretan kata yang tertulis dihalaman awal buku mungil berwarna merah marun yang dicovernya tertulis "Corat Coret Widad"
Keira adalah orang yang sangat memahami aku lebih dari diriku sendiri, orang yang lebih menghargai setiap apa yang aku lakukan lebih dari pada diriku sendiri, orang yang lebih dulu menyadari bakat atau kelebihanku dibandingkan diriku sendiri dan orang yang mampu mengaperesiasikan apa yang aku lakukan lebih besar dari pada diriku sendiri.
Jika sekarang aku tidak lagi malu untuk bernyanyi dihadapan banyak orang itu semua karean Keira, dan jika kini aku rajin menuliskan hasil pemikiranku dalam coretan, ini juga berkat Keira. Dia adalah Keira, sahabatku.
Enam tahun pada masa muda adalah masa-masa emas, banyak yang bilang seperti itu. Tapi bagiku masa muda adalah masa-masa paling bodoh yang sangat manis. Seiring dengan semakin luas pergaulan, teman pun datang silih berganti. Aku yang sebelumnya hanya mengenal Keira kini berpetualang dengan Kira Kura Kera atau bahkan Kora, orang-orang yang baru, teman-teman yang baru tapi bukan Keira yang baru. Karena sejauh apa pun aku berpetualang Keira hanya satu dan selalu nomor satu.
Keira lebih seperti rumah yang ada di kampung halaman, yang baru bisa aku singgahi ketika aku benar-benar lelah dan butuh suntikan semangat baru agar lebih bergairah. Meski begitu bukan berarti kami saling melupakan, namun semakin dewasa kami sadar ada hal-hal yang harus lebih diperhatikan, hal-hal yang terkait dengan tanggung jawab akan sebuah pilihan dan keputusan tentang hidup dan kehidupan.
Aku dan Keira meski tidak lagi sesering dulu bisa menghabiskkan banyak waktu untuk sekedar mengobrol sambil menunggu pesanan makanan yang tidak kunjung datang (walau terkadang akhirnya makanan yang kemudian datang justru kebih dulu mendingin sebab cerita yang tidak berjeda dan ingin segera diutarakan) namun aku dan Keira menikmati setiap perjumpaan yang akhirnya dapat dilakukan setelah menyesuaikan jadwal kosong yang sengaja disisihkan.
Dan pada akhirnya setelah aku dewasa, aku menyadari bahwa kualitas dari pertemuan lebih penting dari pada waktu pertemuan itu sendiri. Seperti yang aku dan Keira lakukan saat ini.
Keira dengan kepribadiannya yang sangat mudah bergaul, tentu memiliki lebih banyak teman, jika kini teman baru yang aku miliki sanggup mengajakku berpetualang mungkin Keira memiliki teman baru yang mampu mengajaknya berkelana kemana pun, karena Keira suka tempat-tempat yang indah.
Sepertinya Keira tidak membutuhkan aba-aba atau sekedar berpura-pura kikuk dalam jumpa pertama dengan orang lain. Dan itu semua adalah ketakutan terbesarku apabila ternyata Keira menjadi terlalu nyaman dan kemudian melupakanku.
Kekanakan bukan?
Memang, tapi seperti ini lah aku kepada Keira, orang yang bahkan tidak berlebihan jika aku sebut sebagai bagian dalam hidupku.
Maka, ketika Keira berjalan terlalu jauh dan sedikit melupakanku aku akan mengingatkannya dengan memberi tanda,
"Kei..gue disini loh"
Walaupun mungkin Keira tidak menyadarinya.
Namun setidaknya aku melakukan sesuatu yang membuat dia kembali teringat padaku. Aku hanya ingin setidaknya ia tahu masih ada aku disini, setidaknya ketika ia benar-benar sudah lelah aku akan selalu siap untuk kembali menjadi kotak curhat, tempat sampah, tembok diam, untuk sekedar mendengar segala keluh kesahnya.
Aku menjadi dewasa dengan semua perkataan Keira. Keira pun menjadi dewasa setelah mendengar ocehanku. Aku dan Keira tumbuh bersama dengan saling memberi, menopang beban satu sama lain, merasakan kesedihan, gurauan, tangisan, bahkan pertengkaran.
Jika teringat pada masa-masa itu, masa putih-biru yang luar biasa, waktu terasa begitu cepat. Bahkan sekarang pun ketika aku kembali ke tempat itu, masih dapat ku ingat hari pertama ketika aku dan Keira memutuskan untuk saling berjalan beriringan sesulit apa pun nantinya kehidupan. Dan jika pilihan untuk kembali menjadi seorang pelajar SMP, aku akan tetap memilih menjadi aku yang sekarang dengan Keira yang selalu ada dalam ceritaku.
Aku adalah gunung es yang tidak mudah diruntuhkan, perangkai kata-kata, penulis surat-surat yang walaupun tidak pernah tersampaikan. Tapi bibirku selalu kelu untuk sekedar mengucapkan, meski sesungguhnya begitu banyak yang ingin akuu sampaikan, dan yang ingin selalu aku ucapkan kepada Keira adalah,
"Terimakasih, terimakasih udah nemenin gue sejauh ini. Walaupun orang bilang perjalanan gue baru dimulai, hidup gue masih panjang yang tentu dengan lantang gue Aaminnkan tapi rasanya ga akan lengkap kalo ga ada lo disisi gue. Kita jarang ketemu, oke..gue paham dengan kesibukan kita masing-masing, tapi jangan pernah anggep gue ga ada dideket lo Kei.. Gue ada. Selalu ada. Yang lain mungkin dateng dan pergi tapi gue bisa stay Kei.. kapan pun dimana pun. Hal-hal yang paling menyenangkan dalam hidup gue, semua gue lewatin bareng-bareng sama lo dan gue harap lo bahagia sebahagia gue punya lo dihidup gue. Sehat terus Kei!! Kapan pun lo kangen gue, rindu gue ditengah perjalanan lo dalam mencapai mimpi-mimpi lo inget aja satu hal kalo suatu hari nanti lo dan gue berhasil kita akan pergi keliling dunia sama-sama. Kalo ada satu dua laki-laki yang nyakitin lo, bilang sama gue Kei.. Walaupun mungkin gue ga bisa samperin mereka terus bikin mereka babak belur tapi setidaknya gue punya banyak kata-kata untuk menghibur lo dan menyadarkan lo bahwa itu semua adalah proses pendewasaan, dan ingetin lo supaya jangan pernah menyerah untuk jatuh cinta lagi. Kalo nanti kehidupan kuliah bikin lo sumpek dan pengap, ketuk pintu rumah gue Kei.. Gue anterin kemanapun lo mau pergi.
Gue bahagia lo ada dihidup gue, semoga lu juga sebahagia gue. Sampai jumpa dikehidupan yang lebih nyata dari sekarang, yang lebih gila dari sekarang yang gue harap bisa gue lewatin semuanya bareng sama lo.
Kita harus sukses Kei! sukses dalam pengertian kita masing-masing. Karena sukses dalam kamus lo mungkin beda sama gue, maka gak ada yang harus dipaksain."
Dan pada paragraf terakhir tulisan ini. Ya aku janji ini adalah yang terakhir.
Mmm.. Walaupun masih banyak yang ingin aku utarakan namun aku putuskan untuk menjadikan ini bagian penutupnya, mengapa?
Karena sebanyak apa pun cerita yang aku tulis tentang perjalanan aku dan Keira orang lain tidak akan merasakan apa yang aku dan Keira rasakan.
Untuk itu, cukup sampai disini, agar hanya aku dan dia yang dapat menyimpan sisa kepingan puzzle yang masih berserakan ini berharap suatu hari ini dapat tersusun dengan rapih. Hanya dengan cara seperti itu orang lain akan mengerti apa yang aku dan ia rasakan.
Ingat, satu tahun lagi untuk menjadi teman seumur hidup.
Untuk itu, kepada Keira yang saat ini tengah berbahagia seiring dengan momen bertambahnya usia, aku hanya dapat berharap semoga tetap menjadi sosok Keira yang ada dalam tulisan ini. Berbahagialah selalu dan semoga aku ada dalam skema kebahagiaan itu, turut merasakannya, bersamamu. Selamat ulangtahun yang ke 20, Keira.
Mmm.. Walaupun masih banyak yang ingin aku utarakan namun aku putuskan untuk menjadikan ini bagian penutupnya, mengapa?
Karena sebanyak apa pun cerita yang aku tulis tentang perjalanan aku dan Keira orang lain tidak akan merasakan apa yang aku dan Keira rasakan.
Untuk itu, cukup sampai disini, agar hanya aku dan dia yang dapat menyimpan sisa kepingan puzzle yang masih berserakan ini berharap suatu hari ini dapat tersusun dengan rapih. Hanya dengan cara seperti itu orang lain akan mengerti apa yang aku dan ia rasakan.
Ingat, satu tahun lagi untuk menjadi teman seumur hidup.
Untuk itu, kepada Keira yang saat ini tengah berbahagia seiring dengan momen bertambahnya usia, aku hanya dapat berharap semoga tetap menjadi sosok Keira yang ada dalam tulisan ini. Berbahagialah selalu dan semoga aku ada dalam skema kebahagiaan itu, turut merasakannya, bersamamu. Selamat ulangtahun yang ke 20, Keira.
Kemudian aku tutup buku mungil berisi kejujuran itu, yang nantinya akan segera ku berikan pada pemiliknya, sahabatku Keira.