Dedicated to everyone who wonders if i'm writing about them. I am.

Rabu, 05 Agustus 2015

Pilihan

Ada 2 jenis orang di dunia ini, yang menyukai pagi dan yang menyukai senja. Menyukai kopi atau menyukai teh, menyukai android atau iphone, dan masih banyak lagi.
Namun tidak ada yang perlu dipermasalahkan akan perbedaan ini, karena setiap orang berhak menemukan rasa nyamannya sendiri. Seperti kisah dua sahabat ini...

Dea adalah penyuka pagi. Karena menurutnya pagi selalu hadir dengan membawa harapan yang baru, usai apa yang terjadi sebelumnya. Dea suka suara kokok ayam dan kicauan burung dipagi hari baginya itu menandakan hal-hal yang baik walaupun tidak selalu namun pasti akan datang. Ia adalah perempuan yang sangat perempuan dengan kata lain feminim, karena itu tentu saja ia cantik hal itu membuat teman wanitanya begitu iri bila kerap kali pergi keluar bersamanya.
Tidak begitu bagi Lia, ia lebih suka senja. Senja dapat membawanya beristirahat sejenak dari penatnya pikiran sebelum bersiap menghadapi kenyataan esok pagi. Senja, terbenamnya matahari, gelapnya malam, bulan dan bintang semua Lia suka. Sempurna.
Lia yang independent, ia dapat melakukan apa yang harus ia lakukan sendiri. Berpikir sangat realistis membuatnya cukup berteman dekat hanya dengan satu teman perempuan (Dea) selebihnya laki-laki, dengan Mempertimbangkan hobi dan demi kesehatan pikirannya ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman lelakinya yang ia nilai lebih easy going. Begitulah, hanya karena rasa nyaman tidak dapat dibeli.

Walaupun begitu, perbedaan tidak membuat keduanya sulit untuk duduk bersama, berbagi pengalaman, menceritakan banyak hal, meringankan beban hidup.
Di pagi yang Dea suka atau di senja yang begitu Lia puja. Keduanya kerap saling menyandarkan pundak, dan menumpahkan segalanya.

Pembicaraan dua wanita di usia tanggung, tidak pernah lepas dari laki-laki. Bagaimana pun topik tentang laki-laki dan perempuan, semuanya selalu menarik.
Namun bagi Dea dan Lia pembicaraan mereka bukan tentang bagaimana cara meraih hati seorang laki-laki ke laki-laki yang satunya lagi, bukan pula menceritakan getirnya pasca berakhirnya suatu hubungan, bukan saling berbisik mengomentari laki-laki yang akan atau sedang coba untuk didekati.
Melainkan menertawakan semua kebodohan yang dengan atau tanpa sengaja dilakukan dahulu ketika memilih untuk menjalin sebuah hubungan.
Keduanya tidak merasa terlalu terintimidasi untuk menjalin sebuah hubungan baru, atau pun takut untuk memulainya. Tapi mereka berkata terlanjur nyaman dengan kesendirian. Entah lah, meski terdengar seperti sebuah alasan.

Lebih dari itu, sendiri adalah sebuah pilihan. Meski terkadang pilihan yang kita buat membuat orang lain menertawakan kita.

Mungkin dibalik tawaan dan cibiran itu benar.
Dea dan Lia diam-diam menyimpan ketakutan akan sesuatu yang sama akan terulang lagi, masa-masa menyedihkan yang susah payah dilewati harus terjadi lagi. Maka dari itu keduanya lebih memilih untuk menjalani hidup sendiri (bukan dalam kesendirian) dari pada menjalani hubungan (dengan orang yang salah).
Menjalani hidup bisa saja tanpa menjalani hubungan. Tapi ketika menjalani hubungan tentu saja harus menjalani hidup, karena mereka beriringan.

Dea dan Lia memilih untuk belajar dari kehidupannya yang dulu, yang begitu terkungkung dalam satu kotak berbentuk hati bernama cinta, atau begitu menyedihkan layaknya sebuah drama.
Hal itu terjadi bukan karena ada sesuatu yang masih membara di hati keduanya, melainkan karena sudah amat teramat padam sehingga dapat terbuka dan berpikir secara objektif.
Pernahkan kalian berpikir sebatas mana tingakatan tertinggi seseorang usai mengalami patah hati? Jawabannya adalah ketika ia mampu menceritakan kembali apa yang telah terjadi tanpa ada lagi kesedihan. Menyadari bahwa itu semua adalah bagian dari perjalanan hidup, dan seperti dibalik pekatnya hitam selalu ada cahaya putih yang menyilaukan. Itu lah sebabnya ada kebaikan yang mengiringi keburukan.

Keduanya bukan terlalu jauh jatuh ke dalam hingga lupa caranya bangkit dan mencoba sesuatu yang baru. Mereka bangkit, bahkan berusaha keluar dari lubang yang berbeda kemudian menandakan bahwa lubang ini sangat berbahaya, bila jatuh menyakitkan, dan sepertinya bukan untuk main-main.
Karena itu ada hal-hal yang menjadi komitmen antara mereka dengan diri mereka sendiri.
Sebuah komitmen yang orang lain tidak mengerti. Atau bahkan diri mereka pun tidak mengerti, sebatas mana komitmen itu.
Kedua sahabat itu hanya tahu bagaimana rasanya bangkit dan merasakan hebatnya kehidupan yang mandiri tanpa perlu takut menyakiti hati seseorang yang perlu dijaga hatinya.
Berteman sebebas-bebasnya, bergaul dengan kalangan mana saja asal tahu batasnya, tangan tidak terborgol handphone, menikmati masa-masa muda yang bahkan tidak akan pernah bisa tergantikan meskipun dapat hidup ratusan tahun lagi.

Karena terlalu lamanya melihat ku sendiri, seseorang yang aku kenal sempat berkata,  "ada 2 alasan kenapa seseorang gak mau lagi memulai sebuah hubungan dengan lawan jenis, yang pertama:
karena tidak pernah berkumpul bersama lawan jenis, tidak mempunyai teman lawan jenis, tidak terbiasa berada diantara lawan jenis.
Dan yang kedua, sebaliknya, selalu berkumpul dengan lawan jenis, terlalu banyak mempunyai teman lawan jenis, merasa terlalu nyaman berada diantara lawan jenis."
Kemudian ia kembali berkata,
"Kayanya lo udah tau lu yang pertama atau yang kedua. Ckck"

Aku hanya tersenyum, seakan mengingat Dea dan segalanya. Dea yang begitu feminim, mengikuti klub menjahit yang sempurna hanya ada perempuan. Dan aku yang ya....kalian dapat melihatnya sendiri.
Meski begitu, dengan alasan yang berbeda namun dengan perasaan hati yang sama. 

Dea pernah berkata,

"Orang-orang yang punya pacar gatau gimana nikmatnya jadi kita jomblo murni yang hatinya ga terikat dan mengikat siapa pun. Hidup itu mahal makanya berharga. Sayang aja mereka gatau...."

Aku kembali tersenyum. Memeluk Dea, sahabatku.



True Story: DW.