Segalanya bermula dari perkenalan yang tidak sengaja atau mungkin sengaja di sosial media. Aku yang tidak terlalu tertarik untuk menjalin hubungan hanya menganggapmu sebagai teman yang baik.
Seseorang yang meski dingin sikapnya namun hangat hatinya. Seseorang yang diamnya mampu lebih berisik dari gemercik air ketika hujan.
Berkat memiliki banyak kesamaan dalam banyak hal, entah sejak kapan kau mulai rajin mengirimi ku pesan. Bukan hanya teks, terkadang foto pemandangan, video yang kau rekam secara sembarangan, foto dirimu kala di perjalanan, hingga video kau memainkan sebuah lagu sembari memetik gitar.
Ah! Lagu favorit dari band favorit. Ku putar sekali lagi memastikan sesorang yang berada dalam video itu kamu. Meski terbilang jarang mendengar suaramu, aku tidak mungkin salah mengenalinya.
Bagaimana rasanya seseorang bernyanyi hanya untukku? Tentu saja bahagia.
Semuanya berjalan dengan sangat cepat. Rasanya aku baru saja memutar video yang kau kirimkan untuk ke 181 kalinya. Masih dengan bodohnya tersenyum, dan ikut bernyanyi bersama.
Ketika 185 kali ku putar video itu, kau masih saja mematung kala kita berpapasan di koridor sore itu. Ah! Itu kali pertama kita saling bicara,
"Ada kelas?"
"Eh iya."
Hanya sebatas itu. Kemudian kita berpisah menuju arah masing-masing dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Aku pun ingat kala kau memintaku tersenyum ketika lain kali kita berpapasan. Maka tersenyumlah aku kala itu, melihatmu juga tersenyum menyadarkanku pada satu hal. Rupanya aku jatuh cinta.
Kemudian rasa cinta itu menamakkan hatiku. Membuatku berharap ada kesempatan lain untukku tersenyum kala bertemu denganmu, membicarakan hal-hal yang biasa kita bicarakan di kolom chat kita. Kali ini dengan memandang wajahmu, membaca gerak tubuhmu, menghadirkan senyum dari sudut bibirmu.
Namun kesempatan itu nampaknya tidak akan datang. Berselang seminggu setelah hari di mana kita saling sapa di koridor sore itu, aku mendengar kau berkekasih dengan teman sepermainanmu. Aku juga dengar ia yang lebih dulu menyukaimu, dan berkat usahanya akhirnya mampu meluluhkanmu.
Lalu bagaimana denganku? Dengan perasaanku yang mulai tumbuh berkat kau pupuk dan kau sirami?
Dengan anganku yang terlampau jauh membayangkan kebahagiaan antara kau dan aku.
Salah pahamkah aku dengan sikap yang meski dingin namun di sisi lain menghadirkan kehangatan?
Jika jawabannya iya, maka panggillah aku bodoh.
Meski sudah menyadari kebodohan itu. Perasaanku tidak lantas begitu saja merelakanmu. Bukan. Aku belum ingin merelakanmu.
Diam-diam aku masih mengharapkanmu, meski tidak sampai mendoakan agar secepatnya berakhir hubunganmu dengan kekasihmu.
Lambat laun.
Setelah aku mencoba kembali lagi ke titik awal perkenalan kita yang tidak sengaja, rasanya ada satu dua hal yang terlewat begitu saja. Sejak awal kau tidak pernah mengatakan apa-apa, tidak menjanjikan apa-apa. Perasaanku lah yang seolah digiring agar sekiranya aku pantas mengharapkan sesuatu dari mu.
Aku lupa perihal peringatan yang paling dasar dari sebuah pengharapan, yakni akan berujung kekecewaan.
"Aku baik sama kamu. Karena kamu baik sama aku. Aku gak nyangka kamu salah paham dan kebawa perasaan"
Ckck. Namun di samping setiap manusia diajarkan untuk berbuat baik pada sesama, bukankah tetap ada batas-batas yang seharusnya dibuat jelas, agar tidak ada lagi perasaan-perasaan yang kandas karena kesalahpahaman dan tak berbalas?
Akhirnya ketika ku tersadar pada satu titik itu. Aku hanya bisa berucap pada diriku sendiri untuk selalu memberi batas yang jelas pada orang-orang yang sudah atau akan masuk ke dalam hidupku. Agar tidak perlu ada lagi yang salah paham pun tak berbalas. Sepertiku.
True Story: sebut aja M