Dedicated to everyone who wonders if i'm writing about them. I am.

Jumat, 22 Februari 2019

Sepertinya (bukan) Salah Paham


Segalanya bermula dari perkenalan yang tidak sengaja atau mungkin sengaja di sosial media. Aku yang tidak terlalu tertarik untuk menjalin hubungan hanya menganggapmu sebagai teman yang baik. 
Seseorang yang meski dingin sikapnya namun hangat hatinya. Seseorang yang diamnya mampu lebih berisik dari gemercik air ketika hujan. 

Berkat memiliki banyak kesamaan dalam banyak hal, entah sejak kapan kau mulai rajin mengirimi ku pesan. Bukan hanya teks, terkadang foto pemandangan, video yang kau rekam secara sembarangan, foto dirimu kala di perjalanan, hingga video kau memainkan sebuah lagu sembari memetik gitar.

Ah! Lagu favorit dari band favorit. Ku putar sekali lagi memastikan sesorang yang berada dalam video itu kamu. Meski terbilang jarang mendengar suaramu, aku tidak mungkin salah mengenalinya. 
Bagaimana rasanya seseorang bernyanyi hanya untukku? Tentu saja bahagia.

Semuanya berjalan dengan sangat cepat. Rasanya aku baru saja memutar video yang kau kirimkan untuk ke 181 kalinya. Masih dengan bodohnya tersenyum, dan ikut bernyanyi bersama.

Ketika 185 kali ku putar video itu, kau masih saja mematung kala kita berpapasan di koridor sore itu. Ah! Itu kali pertama kita saling bicara,
"Ada kelas?"
"Eh iya."
Hanya sebatas itu. Kemudian kita berpisah menuju arah masing-masing dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.

Aku pun ingat kala kau memintaku tersenyum ketika lain kali kita berpapasan. Maka tersenyumlah aku kala itu, melihatmu juga tersenyum menyadarkanku pada satu hal. Rupanya aku jatuh cinta.

Kemudian rasa cinta itu menamakkan hatiku. Membuatku berharap ada kesempatan lain untukku tersenyum kala bertemu denganmu, membicarakan hal-hal yang biasa kita bicarakan di kolom chat kita. Kali ini dengan memandang wajahmu, membaca gerak tubuhmu, menghadirkan senyum dari sudut bibirmu.

Namun kesempatan itu nampaknya tidak akan datang. Berselang seminggu setelah hari di mana kita saling sapa di koridor sore itu, aku mendengar kau berkekasih dengan teman sepermainanmu. Aku juga dengar ia yang lebih dulu menyukaimu, dan berkat usahanya akhirnya mampu meluluhkanmu.

Lalu bagaimana denganku? Dengan  perasaanku yang mulai tumbuh berkat kau pupuk dan kau sirami?
Dengan anganku yang terlampau jauh membayangkan kebahagiaan antara kau dan aku.
Salah pahamkah aku dengan sikap yang meski dingin namun di sisi lain menghadirkan kehangatan?

Jika jawabannya iya, maka panggillah aku bodoh.

Meski sudah menyadari kebodohan itu. Perasaanku tidak lantas begitu saja merelakanmu. Bukan. Aku belum ingin merelakanmu.
Diam-diam aku masih mengharapkanmu, meski tidak sampai mendoakan agar secepatnya berakhir hubunganmu dengan kekasihmu.

Lambat laun. 

Setelah aku mencoba kembali lagi ke titik awal perkenalan kita yang tidak sengaja, rasanya ada satu dua hal yang terlewat begitu saja. Sejak awal kau tidak pernah mengatakan apa-apa, tidak menjanjikan apa-apa. Perasaanku lah yang seolah digiring agar sekiranya aku pantas mengharapkan sesuatu dari mu.

Aku lupa perihal peringatan yang paling dasar dari sebuah pengharapan, yakni akan berujung kekecewaan. 

"Aku baik sama kamu. Karena kamu baik sama aku. Aku gak nyangka kamu salah paham dan kebawa perasaan"

Ckck. Namun di samping setiap manusia diajarkan untuk berbuat baik pada sesama, bukankah tetap ada batas-batas yang seharusnya dibuat jelas, agar tidak ada lagi perasaan-perasaan yang kandas karena kesalahpahaman dan tak berbalas?

Akhirnya ketika ku tersadar pada satu titik itu. Aku hanya bisa berucap pada diriku sendiri untuk selalu memberi batas yang jelas pada orang-orang yang sudah atau akan masuk ke dalam hidupku. Agar tidak perlu ada lagi yang salah paham pun tak berbalas. Sepertiku.

True Story: sebut aja M

Sabtu, 10 November 2018

Aku Tentang On Your Wedding Day

Sekitar beberapa hari yang lalu akhirnya kesampaian juga nonton film On Your Wedding Day yang ditulis oleh Lee Seok Geun. Lead actor dan actresnya ini udah sering main drama Korea jadi sangat tidak heran kalau film ini dinanti-nanti perilisannya. Karena review sudah banyak bertebaran, jadi kali ini gak akan ikut-ikutan nge-review tentang film ini hanya ingin mengungkapkan sedikit pandangan tentang film yang akhirnya bisa bikin nangis setelah sekian lama gak nangis. Hhhh

Seperti yang sudah diketahui film ini berani memberikan ending yang pahit tapi manis buat para penontonnya, hal ini sesuatu yang tidak biasa tentunya karena  para penonton drama Korea biasanya lebih suka sama ending yang manis dan kirim pesan ke writer-nimnya bilang "jebal writernim biarin si A sama si B bersatu." hhhh lemah!!

Tapi tidak dengan film yang satu ini. Setelah Hwang Woo Hyeon (Kim Young Kwang) justru berhasil masuk universitas terbaik di Korea Selatan untuk bisa bertemu lagi dengan Hwan Seung Hee (Park Bo Young), Woo Hyeon harus menerima kenyataan kalau Seung Hee sudah punya pacar. Tapi sebagai laki-laki yang belum bisa melepas cinta pertamanya begitu saja Woo Hyeon tetap ada di samping Seung Hee di saat Seung Hee merasa terjatuh dan kehilangan arah baik karena laki-laki pun karena kehidupannya sebagai mahasiswa di Univerisitas yang tidak pernah mudah.

Sebenernya menurut gue sih, di film ini yang jadi masalah cuma timing. Saat bertemu lagi di Universitas Seung Hee punya pacar. Saat akhirnya Seung Hee putus, Woo Hyeon harus masuk wajib militer. Setelah pulang wajib militer, gantian Woo Hyeonnya yang punya pacar. Jadi semacam tidak ada ruang bagi mereka berdua untuk mengungkapkan perasaan satu sama lain, meskipun keduanya sama-sama memahami ada yang tidak biasa di antara mereka berdua.

Yang membuat penonton bahagia adalah adegan ketika Woo Hyeon rela menjadi supir untuk antar Seung Hee bekerja lebih tepatnya sih shooting di salah satu daerah. Saat itu Woo Hyeon menunjukkan dia lebih memilih Seung Hee dari pada pacarnya. Saat di jalan ada satu kejadian yang membuat Seung Hee menyadari bahwa perasaan Woo Hyeon masih sama dan tidak berubah. Mungkin hal ini sangat tidak adil untuk pacarnya Woo Hyeon ini tapi untungnya tidak lama berselang digambarkan bahwa Woo Hyeon memilih putus dari pacarnya dan mengakui hal itu dikarenakan dia lebih memilih Seung Hee.

Sebagai perempuan, pastinya Seung Hee tidak ingin menjalani hubungan dengan teman lama yang sudah hampir banget jadi pacar. Khawatir akan kecewa atau kesakitan-kesakitan lain yang justru membuat keduanya berjarak. Mungkin Seung Hee  merasa lebih nyaman untuk terus berteman dekat, saling mendukung kehidupan satu sama lain. Seperti yang dilakukan selama ini.

Tapi seperti yang selalu orang-orang bilang, laki-laki dan perempuan tidak mungkin bisa berteman. Pasti salah satunya ada yang merasa lebih. Nah! Ini berlaku buat Woo Hyeon, terutama setelah dia resmi putus dari pacarnya. Saat itu Woo Hyeon benar-benar menunjukkan bahwa cintanya dari jaman SMA tidak berubah. Perasaannya masih sama, dan perempuan yang dia sayangi hanya Seung Hee. Ia merasa menjadi manusia yang lebih baik setelah mengenal Seung Hee, bahkan bisa masuk Universitas bergengsi meskipun saat SMA sempat menyerah untuk belajar.

Perempuan seperti Seung Hee pun perempuan lain juga akan luluh apabila terus menerus diberikan kasih sayang. Seung Hee tidak cukup bodoh  untuk melepaskan laki-laki setulus dan sekeukeuh Woo Hyeon. Akhirnya penantian dan perjuangan Woo Hyeon membuahkan hasil. Tidak ada yang sia-sia. Penonton pun bahagia,

Ternyata sama seperti penggambaran di filmnya yang singkat sekali, hubungan Woo Hyeon dan Seung Hee yang baru saja resmi dan bersemi harus kembali gugur hanya karena satu kesalahan. Memang sih tidak bisa dipungkiri saat itu kondisi Woo Hyeon sedang jatuh, sudah lulus kuliah tapi belum juga dapat pekerjaan. Sedangkan teman-temannya sudah ada yang menikah, bekerja, dll, Tanpa bermaksud merendahkan diri namun pasti siapapun yang ada dalam kondisi tersebut merasa tertinggal dan akhirnya mencari objek untuk melampiaskan kemarahan yang justru harusnya dialamatkan ke diri sendiri.

Tidak bisa dipungkiri, Seung Hee yang saat itu merasa dipersalahkan atas segala ketidak beruntungan dalam hidup Woo Hyeon pun merasa sedih. Bagaimanapun ia kecewa ketika laki-laki yang ia berikan kepercayaan untuk memiliki hatinya dapat menyakiti dirinya dengan satu kata-kata yang mungkin akan terus membekas dalam hidupnya, selamanya. Sebagai perempuan Seung Hee pun melepaskan Woo Hyeon meskipun Woo Hyeon sendiri sudah berkali-kali minta maaf dan mengakui kesalahannya. Adegan terperih saat Woo Hyeon berlutut di depan Sung Hee sambil memegang tangan Sung Hee namun ia tidak lagi ia temui couple ring di jari manis Sung Hee. Tepat saat itu Woo Hyeon sudah menyadari bahwa Seung Hee sudah melepaskannya. 

Meskipun dengan tanpa ragu Seung Hee berjalan memungguni Woo Hyeon tapi ternyata di balik itu semua sebenarnya Sung Hee menangis. Ia kehilangan sahabat sekaligus orang yang dicintainya, sedangkan Woo Hyeon masih terpaku mengingat ia kehilangan dunianya. Semangat hidupnya. Orang yang menjadikannya seperti sekarang ini.

Setelah mereka putus Seung Hee mengambil kesempatan dari perusahannya untuk bekerja di Belgia. Kehidupan Woo Hyeon pun sudah mulai membaik, ia bekerja sebagai guru olahraga mengingat saat kuliah mengambil jurusan pendidikan jasmani. 

Singkat cerita

Saat kembali dari Belgia Seung Hee menemui Woo Hyeon di tempatnya mengajar, ia menyampaikan bahwa tidak lama lagi akan menikah dengan rekan kerjanya selama di Belgia. Kabar bahagia yang mungkin menyakitkan untuk Woo Hyeon, namun akan lebih baik disampaikan dan didengar secara langsung dari pada melalui orang lain.

Akhirnya surat undangan pernikahan tersebut tiba juga di sekolah tempat Woo Hyeon mengajar. Sambil membaca nama yang tertera pada undangan di tangannya, Woo Hyeon hanya tersenyum tipis yang justru mengguratkan banyak mana. Adegan ini juga merupakan awal dimulainya film ini. Jadi istilahnya mah Woo Hyeon ini lagi flash back. Tapi dia yang flash back kita yang nangis. hhhh

Bagaimanapun Woo Hyeon tetap laki-laki biasa, ditinggal menikah oleh perempuan yang menjadi segalanya baginya bukanlah hal mudah. Setalah uring-uringan berhari-hari ditemani oleh teman-teman setianya, akhirnya Woo Hyeon menyadari bahwa lari dari kenyataan tidak akan ada garis batasny. Ia bangkit dan memutuskan untuk memberkati pernikahan perempuan yang paling ia sayangi. Entah apa yang menjadi titik balik ia melakukan itu semua. Namun itu adalah hal terbaik, terbijak, terdewasa yang bisa dipelajari dari Woo Hyeon.

Masih ditemani teman-temannya ia memasuki tempat pernikahan Seung Hee, dengan bantuan teman-temannya ia bisa memiliki kesempatan untuk mengungkapkan hal yang sudah berkali-kali ia pikirkan. Ia datangi Seung Hee dengan senyum paling tulus yang pernah ada, ia duduk tepat di depan Sung Hee yang memakai gaun pengantin. 

"Hwan Seung Hee aku benar-benar menyesali banyak hal, karena menyakitimu. Karena mengatakan aku menyesal bertemu denganmu. Sejujurnya itu adalah kebalikannya. Aku benar-benar bahagia akhir-akhir ini, mengajar anak-anak juga sangat menyenangkan. Itu semua berkatmu. Aku mendapatkan mimpi baru karenamu, berkuliah, bertemu teman baik, dan juga menjadi guru. Kau mengubah diriki menjadi diriku saat ini. Aku menyia-nyiakan hidupku, tapi kau membuatku menjadi seorang manusia. Terimakasih telah mampir dalam hidupku, Hwan Seung Hee. Berbahagialah. Berbahagia selalu."

Lalu saat Woo Hyeon akan pergi, Seung Hee membalas perkataan Woo Hyeon,

"Sebenarnya saat aku mengunjungimu di sekolah, ada yang ingin ku katakan kepadamu. Setiap kali aku kesepian, kehilangan arah dalam hidup, melupakan mimpiku, saat aku tersesat, kau selalu disisiku. Hwang Woo Hyeon, terimakasih banyak."

Tidak mudah untuk turut berbahagia saat kita justru merasakan sakit atas kebahagiaan itu. Namun dengan menyadari, mengakui, menerima kenyataan dan mampu menyikapinya secara dewasa, serta ikhlas untuk melepas orang yang kita sayangi pada akhirnya akan membuat kita dapat menjalani hari-hari. Seperti atau pun tidak seperti sedia kala. Karena terus memaksakan pun tidak akan membuatnya kembali maka biarkan iringan doa terbaik yang menjadi pengganti.




Selasa, 26 Desember 2017

Layang-layang

Seandainya kau tahu.. layang-layang pun tak ingin menjadi layang-layang yang dibuat, dipercantik untuk sekedar dipermainkan. Dipertontonkan. 
Ia juga sesekali ingin untuk dipertaruhkan, terlepas dari resiko memutus atau diputus sama imbang yang dimilikinya.

Aku pun sama.. 
Hanya sekedar ingin dipertaruhkan, diperjuangkan bukan dengan membiarkanku menggantung mengatung-atung.

Bila ingin aku pergi, baiklah. 
Namun jangan datang dengan menguak sesuatu yang susah payah telah ku jadikan kenangan.
Jangan bangkitkan lagi perasaan yang dengan sekuat tenaga aku tahan.

Aku lakukan apa yang bisa ku lakukan untukmu. 
Kau memberi satu, aku balas dengan dua, tiga, empat, lima. Meski tak juga kau rasa sama.

Kau biarkan aku terbang tinggi, kemudian menjatuhkanku berkali-kali.

Jika memang tidak lagi diinginkan, aku dengan rendah hati akan mundur perlahan.
Tanpa keras kepala, tanpa keegoisan.
Demi kamu. Demi aku. Perasaanku.

Apa yang sekiranya bisa diharapkan dari mengikat sesuatu dengan sesuatu yang belum pasti?
Seolah digenggam namun tak tergenggam, seolah dihempas namun tak terhempas. Ingin dibuang pun namun rasanya sayang.

Sama dengan perasaan.
Perasaan yang gantung mengatung-ngatung hanya akan membuatku bingung, membuatku linglung.
Maka putuskan taliku yang telah terlalu lama kau ulur, agar aku jatuh ke bawah sampai terbentur. 
Atau, tarik taliku yang telah terlampau jauh kau ulur untuk kembali lagi dalam genggaman yang kau gulung.

Karena aku bukan layang-layang, 
biarkan aku pergi jika memang ingin aku pergi. Jangan menahanku dengan sesuatu yang bahkan kau sendiri belum yakini.

Bukankah sesuatu yang sudah dilepas harusnya dibiarkan bebas?
Sebaliknya, bukankah sesuatu yang tidak ingin kau lepas harusnya kau jaga dengan ikhlas?

Aku bukan layang-layang.
Yang dibuat, dipercantik, untuk dipermainkan. Dipertontonkan.
Aku adalah aku dengan segala kuasa penuh atas diriku, atau kini dirimu?

Ditarik, diulur, diputus, memutus. Begitulah nasib layang-layang. 

Tapi tahukah kau  apa yang lebih menyedihkan dari itu semua?
Ketika layang-layang itu putus atau terputus, orang-orang hanya akan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Sangat biasa.

Mereka akan berkacak pinggang berbalik badan dan bubar teratur seolah tidak pernah ada yang terjadi.

Ah. Aku bisa membelinya lagi. Lain kali.
Pikir mereka

Selasa, 22 Desember 2015

Teman Hidup

"Jika persahabatan berlangsung lebih dari 7 tahun, maka persahabatan itu akan berlangsung seumur hidup."

Begitulah deretan kata yang tertulis dihalaman awal buku mungil berwarna merah marun yang dicovernya tertulis "Corat Coret Widad"



Keira adalah orang yang sangat memahami aku lebih dari diriku sendiri, orang yang lebih menghargai setiap apa yang aku lakukan lebih dari pada diriku sendiri, orang yang lebih dulu menyadari bakat atau kelebihanku dibandingkan diriku sendiri dan orang yang mampu mengaperesiasikan apa yang aku lakukan lebih besar dari pada diriku sendiri. 
Jika sekarang aku tidak lagi malu untuk bernyanyi dihadapan banyak orang itu semua karean Keira, dan jika kini aku rajin menuliskan hasil pemikiranku dalam coretan, ini juga berkat Keira. Dia adalah Keira, sahabatku.

Enam tahun pada masa muda adalah masa-masa emas, banyak yang bilang seperti itu. Tapi bagiku masa muda adalah masa-masa paling bodoh yang sangat manis. Seiring dengan semakin luas pergaulan, teman pun datang silih berganti. Aku yang sebelumnya hanya mengenal Keira kini berpetualang dengan Kira Kura Kera atau bahkan Kora, orang-orang yang baru, teman-teman yang baru tapi bukan Keira yang baru. Karena sejauh apa pun aku berpetualang Keira hanya satu dan selalu nomor satu.

Keira lebih seperti rumah yang ada di kampung halaman, yang baru bisa aku singgahi ketika aku benar-benar lelah dan butuh suntikan semangat baru agar lebih bergairah. Meski begitu bukan berarti kami saling melupakan, namun semakin dewasa kami sadar ada hal-hal yang harus lebih diperhatikan, hal-hal yang terkait dengan tanggung jawab akan sebuah pilihan dan keputusan tentang hidup dan kehidupan. 

Aku dan Keira meski tidak lagi sesering dulu bisa menghabiskkan banyak waktu untuk sekedar mengobrol sambil menunggu pesanan makanan yang tidak kunjung datang (walau terkadang akhirnya makanan yang kemudian datang justru kebih dulu mendingin sebab cerita yang tidak berjeda dan ingin segera diutarakan) namun aku dan Keira menikmati setiap perjumpaan yang akhirnya dapat dilakukan setelah menyesuaikan jadwal kosong yang sengaja disisihkan.
Dan pada akhirnya setelah aku dewasa, aku menyadari bahwa kualitas dari pertemuan lebih penting dari pada waktu pertemuan itu sendiri. Seperti yang aku dan Keira lakukan saat ini.

Keira dengan kepribadiannya yang sangat mudah bergaul, tentu memiliki lebih banyak teman, jika kini teman baru yang aku miliki sanggup mengajakku berpetualang mungkin Keira memiliki teman baru yang mampu mengajaknya berkelana kemana pun, karena Keira suka tempat-tempat yang indah.

Sepertinya Keira tidak membutuhkan aba-aba atau sekedar berpura-pura kikuk dalam jumpa pertama dengan orang lain. Dan itu semua adalah ketakutan terbesarku apabila ternyata Keira menjadi terlalu nyaman dan kemudian melupakanku.
Kekanakan bukan? 
Memang, tapi seperti ini lah aku kepada Keira, orang yang bahkan tidak berlebihan jika aku sebut sebagai bagian dalam hidupku.
Maka, ketika Keira berjalan terlalu jauh dan sedikit melupakanku aku akan mengingatkannya dengan memberi tanda,

"Kei..gue disini loh"

Walaupun mungkin Keira tidak menyadarinya. 
Namun setidaknya aku melakukan sesuatu yang membuat dia kembali teringat padaku. Aku hanya ingin setidaknya ia tahu masih ada aku disini, setidaknya ketika ia benar-benar sudah lelah aku akan selalu siap untuk kembali menjadi kotak curhat, tempat sampah, tembok diam, untuk sekedar mendengar segala keluh kesahnya.

Aku menjadi dewasa dengan semua perkataan Keira. Keira pun menjadi dewasa setelah mendengar ocehanku. Aku dan Keira tumbuh bersama dengan saling memberi, menopang beban satu sama lain, merasakan kesedihan, gurauan, tangisan, bahkan pertengkaran.
Jika teringat pada masa-masa itu, masa putih-biru yang luar biasa, waktu terasa begitu cepat. Bahkan sekarang pun ketika aku kembali ke tempat itu, masih dapat ku ingat hari pertama ketika aku dan Keira memutuskan untuk saling berjalan beriringan sesulit apa pun nantinya kehidupan. Dan jika pilihan untuk kembali menjadi seorang pelajar SMP, aku akan tetap memilih menjadi aku yang sekarang dengan Keira yang selalu ada dalam ceritaku.

Aku adalah gunung es yang tidak mudah diruntuhkan, perangkai kata-kata, penulis surat-surat yang walaupun tidak pernah tersampaikan. Tapi bibirku selalu kelu untuk sekedar mengucapkan, meski sesungguhnya begitu banyak yang ingin akuu sampaikan, dan yang ingin selalu aku ucapkan kepada Keira adalah, 

"Terimakasih, terimakasih udah nemenin gue sejauh ini. Walaupun orang bilang perjalanan gue baru dimulai, hidup gue masih panjang yang tentu dengan lantang gue Aaminnkan tapi rasanya ga akan lengkap kalo ga ada lo disisi gue. Kita jarang ketemu, oke..gue paham dengan kesibukan kita masing-masing, tapi jangan pernah anggep gue ga ada dideket lo Kei.. Gue ada. Selalu ada. Yang lain mungkin dateng dan pergi tapi gue bisa stay Kei.. kapan pun dimana pun. Hal-hal yang paling menyenangkan dalam hidup gue, semua gue lewatin bareng-bareng sama lo dan gue harap lo bahagia sebahagia gue punya lo dihidup gue. Sehat terus Kei!! Kapan pun lo kangen gue, rindu gue ditengah perjalanan lo dalam mencapai mimpi-mimpi lo inget aja satu hal kalo suatu hari nanti lo dan gue berhasil kita akan pergi keliling dunia sama-sama. Kalo ada satu dua laki-laki yang nyakitin lo, bilang sama gue Kei.. Walaupun mungkin gue ga bisa samperin mereka terus bikin mereka babak belur tapi setidaknya gue punya banyak kata-kata untuk menghibur lo dan menyadarkan lo bahwa itu semua adalah proses pendewasaan, dan ingetin lo supaya jangan pernah menyerah untuk jatuh cinta lagi. Kalo nanti kehidupan kuliah bikin lo sumpek dan pengap, ketuk pintu rumah gue Kei.. Gue anterin kemanapun lo mau pergi. 
Gue bahagia lo ada dihidup gue, semoga lu juga sebahagia gue. Sampai jumpa dikehidupan yang lebih nyata dari sekarang, yang lebih gila dari sekarang yang gue harap bisa gue lewatin semuanya bareng sama lo.
Kita harus sukses Kei! sukses dalam pengertian kita masing-masing. Karena sukses dalam kamus lo mungkin beda sama gue, maka gak ada yang harus dipaksain."

Dan pada paragraf terakhir tulisan ini. Ya aku janji ini adalah yang terakhir.
Mmm.. Walaupun masih banyak yang ingin aku utarakan namun aku putuskan untuk menjadikan ini bagian penutupnya, mengapa?
Karena sebanyak apa pun cerita yang aku tulis tentang perjalanan aku dan Keira orang lain tidak akan merasakan apa yang aku dan Keira rasakan.
Untuk itu, cukup sampai disini, agar hanya aku dan dia yang dapat menyimpan sisa kepingan puzzle yang masih berserakan ini berharap suatu hari ini dapat tersusun dengan rapih. Hanya dengan cara seperti itu orang lain akan mengerti apa yang aku dan ia rasakan.
Ingat, satu tahun lagi untuk menjadi teman seumur hidup.

Untuk itu,  kepada Keira yang saat ini tengah berbahagia seiring dengan momen bertambahnya usia, aku hanya dapat berharap semoga tetap menjadi sosok Keira yang ada dalam tulisan ini. Berbahagialah selalu dan semoga aku ada dalam skema kebahagiaan itu, turut merasakannya, bersamamu. Selamat ulangtahun yang ke 20, Keira.




Kemudian aku tutup buku mungil berisi kejujuran itu, yang nantinya akan segera ku berikan pada pemiliknya, sahabatku Keira.


Kamis, 12 November 2015

Tentang Rindu

Kebahagiaan yang hadir dipuncak dua kerinduan,
membawa aku melayang terbang jauh ke awan.
Kau adalah gunung es yang tidak mencair sedikitpun meski kemarau membunuh orang perlahan.
Tapi hari itu..
Hari bahagia itu kau menjadi api unggun yang begitu hangat dengan caramu sendiri.
Tidak masalah,
semua orang punya dua sisi yang hanya bisa ditunjukkan untuk orang-orang terpilih.
Lebih dari itu.. Semua ini berkat rindu yang berada tepat dititik dan garis yang sama.
Tapi sayangku,
bagaimana bisa kita dapat menyatukan garis rindu ini untuk tetap saling merindu?
Bagaimana bisa rasa rindu yang misteri ini dijadikan tolak ukur untuk kita saling menyapa?
Rindu, ya rindu.
Tidak peduli yang lain, hanya sekedar merindu.
Jangan diam dan biarkan orang yang kau rindukan merindukanmu terlalu lama.
Sayang biar ku beritahu,
waktuku merindumu adalah sebanyak aku menatap matamu.
Karena itu, jika kau terbiasa mengajarkanku untuk jauh dari mata itu maka kau mengajarkanku pula untuk tidak merindukanmu.

Rabu, 05 Agustus 2015

Pilihan

Ada 2 jenis orang di dunia ini, yang menyukai pagi dan yang menyukai senja. Menyukai kopi atau menyukai teh, menyukai android atau iphone, dan masih banyak lagi.
Namun tidak ada yang perlu dipermasalahkan akan perbedaan ini, karena setiap orang berhak menemukan rasa nyamannya sendiri. Seperti kisah dua sahabat ini...

Dea adalah penyuka pagi. Karena menurutnya pagi selalu hadir dengan membawa harapan yang baru, usai apa yang terjadi sebelumnya. Dea suka suara kokok ayam dan kicauan burung dipagi hari baginya itu menandakan hal-hal yang baik walaupun tidak selalu namun pasti akan datang. Ia adalah perempuan yang sangat perempuan dengan kata lain feminim, karena itu tentu saja ia cantik hal itu membuat teman wanitanya begitu iri bila kerap kali pergi keluar bersamanya.
Tidak begitu bagi Lia, ia lebih suka senja. Senja dapat membawanya beristirahat sejenak dari penatnya pikiran sebelum bersiap menghadapi kenyataan esok pagi. Senja, terbenamnya matahari, gelapnya malam, bulan dan bintang semua Lia suka. Sempurna.
Lia yang independent, ia dapat melakukan apa yang harus ia lakukan sendiri. Berpikir sangat realistis membuatnya cukup berteman dekat hanya dengan satu teman perempuan (Dea) selebihnya laki-laki, dengan Mempertimbangkan hobi dan demi kesehatan pikirannya ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman lelakinya yang ia nilai lebih easy going. Begitulah, hanya karena rasa nyaman tidak dapat dibeli.

Walaupun begitu, perbedaan tidak membuat keduanya sulit untuk duduk bersama, berbagi pengalaman, menceritakan banyak hal, meringankan beban hidup.
Di pagi yang Dea suka atau di senja yang begitu Lia puja. Keduanya kerap saling menyandarkan pundak, dan menumpahkan segalanya.

Pembicaraan dua wanita di usia tanggung, tidak pernah lepas dari laki-laki. Bagaimana pun topik tentang laki-laki dan perempuan, semuanya selalu menarik.
Namun bagi Dea dan Lia pembicaraan mereka bukan tentang bagaimana cara meraih hati seorang laki-laki ke laki-laki yang satunya lagi, bukan pula menceritakan getirnya pasca berakhirnya suatu hubungan, bukan saling berbisik mengomentari laki-laki yang akan atau sedang coba untuk didekati.
Melainkan menertawakan semua kebodohan yang dengan atau tanpa sengaja dilakukan dahulu ketika memilih untuk menjalin sebuah hubungan.
Keduanya tidak merasa terlalu terintimidasi untuk menjalin sebuah hubungan baru, atau pun takut untuk memulainya. Tapi mereka berkata terlanjur nyaman dengan kesendirian. Entah lah, meski terdengar seperti sebuah alasan.

Lebih dari itu, sendiri adalah sebuah pilihan. Meski terkadang pilihan yang kita buat membuat orang lain menertawakan kita.

Mungkin dibalik tawaan dan cibiran itu benar.
Dea dan Lia diam-diam menyimpan ketakutan akan sesuatu yang sama akan terulang lagi, masa-masa menyedihkan yang susah payah dilewati harus terjadi lagi. Maka dari itu keduanya lebih memilih untuk menjalani hidup sendiri (bukan dalam kesendirian) dari pada menjalani hubungan (dengan orang yang salah).
Menjalani hidup bisa saja tanpa menjalani hubungan. Tapi ketika menjalani hubungan tentu saja harus menjalani hidup, karena mereka beriringan.

Dea dan Lia memilih untuk belajar dari kehidupannya yang dulu, yang begitu terkungkung dalam satu kotak berbentuk hati bernama cinta, atau begitu menyedihkan layaknya sebuah drama.
Hal itu terjadi bukan karena ada sesuatu yang masih membara di hati keduanya, melainkan karena sudah amat teramat padam sehingga dapat terbuka dan berpikir secara objektif.
Pernahkan kalian berpikir sebatas mana tingakatan tertinggi seseorang usai mengalami patah hati? Jawabannya adalah ketika ia mampu menceritakan kembali apa yang telah terjadi tanpa ada lagi kesedihan. Menyadari bahwa itu semua adalah bagian dari perjalanan hidup, dan seperti dibalik pekatnya hitam selalu ada cahaya putih yang menyilaukan. Itu lah sebabnya ada kebaikan yang mengiringi keburukan.

Keduanya bukan terlalu jauh jatuh ke dalam hingga lupa caranya bangkit dan mencoba sesuatu yang baru. Mereka bangkit, bahkan berusaha keluar dari lubang yang berbeda kemudian menandakan bahwa lubang ini sangat berbahaya, bila jatuh menyakitkan, dan sepertinya bukan untuk main-main.
Karena itu ada hal-hal yang menjadi komitmen antara mereka dengan diri mereka sendiri.
Sebuah komitmen yang orang lain tidak mengerti. Atau bahkan diri mereka pun tidak mengerti, sebatas mana komitmen itu.
Kedua sahabat itu hanya tahu bagaimana rasanya bangkit dan merasakan hebatnya kehidupan yang mandiri tanpa perlu takut menyakiti hati seseorang yang perlu dijaga hatinya.
Berteman sebebas-bebasnya, bergaul dengan kalangan mana saja asal tahu batasnya, tangan tidak terborgol handphone, menikmati masa-masa muda yang bahkan tidak akan pernah bisa tergantikan meskipun dapat hidup ratusan tahun lagi.

Karena terlalu lamanya melihat ku sendiri, seseorang yang aku kenal sempat berkata,  "ada 2 alasan kenapa seseorang gak mau lagi memulai sebuah hubungan dengan lawan jenis, yang pertama:
karena tidak pernah berkumpul bersama lawan jenis, tidak mempunyai teman lawan jenis, tidak terbiasa berada diantara lawan jenis.
Dan yang kedua, sebaliknya, selalu berkumpul dengan lawan jenis, terlalu banyak mempunyai teman lawan jenis, merasa terlalu nyaman berada diantara lawan jenis."
Kemudian ia kembali berkata,
"Kayanya lo udah tau lu yang pertama atau yang kedua. Ckck"

Aku hanya tersenyum, seakan mengingat Dea dan segalanya. Dea yang begitu feminim, mengikuti klub menjahit yang sempurna hanya ada perempuan. Dan aku yang ya....kalian dapat melihatnya sendiri.
Meski begitu, dengan alasan yang berbeda namun dengan perasaan hati yang sama. 

Dea pernah berkata,

"Orang-orang yang punya pacar gatau gimana nikmatnya jadi kita jomblo murni yang hatinya ga terikat dan mengikat siapa pun. Hidup itu mahal makanya berharga. Sayang aja mereka gatau...."

Aku kembali tersenyum. Memeluk Dea, sahabatku.



True Story: DW.

Jumat, 13 Maret 2015

Karena Dia Bintang

Untuk yang jauh teramat jauh, yang tinggi teramat tinggi.
Menempel dengan langit, bergerak bersama waktu.

Selamat Pagi di kehidupanmu Bintang. Semoga harimu menyenangkan! Dari aku yang hanya selalu mampu memandang dari balik punggungmu. Meski harum rambut ikal menggemaskan itu mampu ku cium, meski tangan mungil berwarna kecoklatan itu sangat mampu ku raih.
Sekali lagi ku ucapkan, Selamat Pagi!

Kamis adalah pekerjaan rumah untukku, karena harus berangkat kuliah lebih awal untuk kelas pertamaku.
Pagi itu pukul 07.52 seperti biasa aku hadir lebih awal. Aku mengambil satu batang rokok sambil sesekali menyeruput kopi instan yang baru saja aku beli.
Rokok pertama pagi ini, kopi pertama pagi ini, dan senyum serta sapaan pertama pagi ini
"Kaak..ada kelas pagi?"
Nada yang diucapkan dengan lembut, dengan senyum dan anggukan kepala. Terlalu biasa dan basa-basi sekali.
Tapi aku suka, dan itu lah alasanku berada disini.

Ya.. Perkenalkan, dia adalah Bintangku atau sebut saja dia adalah Bintang yang aku aku-aku-kan.

Sebagai seorang Bintang ia tergolong amat sederhana. Lihat saja pakaiannya, kemeja lengan panjang, rambut pendek yang diikat asal-asalan, skinny jeans, dan juga sneakers.
Sudah sejak lama aku memperhatikannya dan aku dapat pastikan bahwa tidak pernah ada riasan diwajahnya.
Lagi pula untuk apa memakai riasan?
Toh dengan dia seperti itu saja sudah bisa membuatku menggila.
Bayangkan! Seseorang sepertiku rela hadir dikelas +- 30 menit sebelum kelas dimulai hanya karena aku tahu ia akan datang 15 menit sebelum kelasnya yang berada tepat di samping kelasku dimulai.
Kalau bukan karena cinta, maka apa lagi?

Kadang aku mencibir diriku sendiri yang hanya bisa terdiam ketika Bintang melintas di depan ku.
Kadang aku menertawakan kebodohan macam apa yang aku pelihara ketika ia tepat di depan mataku aku tidak bisa menggerakkan tangan ku untuk skedar menepuk bahunya sebagai tanda
"Hai Bintang, aku disini loh"
Sempat terpikir untuk menariknya agar duduk bersebelahan denganku, berbagi, dan bercerita tentang banyak hal.
Tapi semua terasa begitu sulit.

Ya, aku memang sering menatap wajahnya, namun sesering itu pula lah aku merasa bahwa selalu punggungnya yang aku tatap, mengapa?
Karena ia tidak pernah menatap ku seperti aku menatapnya.
Tak jarang pula aku bertegur sapa dengannya, namun tak jarang aku merasakan bahwa itu hanyalah komunikasi satu arah yang sebenarnya tidak bisa dibilang itu adalah sebuah komunikasi.
Bisa dibilang sebatas basa-basi.
Pemanis yang sebenarnya tidak terlalu manis.
"Kaa.."
"Eh Bintang, mau kemana?"
"Fotokopi ka. Duluan ya."
"Oh iya."
.
.
Selesai. Selalu seperti itu. Kemudian ia hilang ditengah kerumunan bintang lain,awan,pelangi,hewan,serangga, dll.

Bintang yang berarti begitu besar untukku . Bintang yang mampu memutar balikkan menjungkir balikkan hati dan pikiranku, meski aku bahkan tidak berarti apa-apa.

Aku harus apa ?

Aku bukan matahari yang mampu memberikannya waktu untuk setidaknya terpejam setelah lelah terjaga dimalam hari,
Aku juga bukan awan yang bisa berjalan ke manapun agar bisa terus mengikutinya,
Aku bukan pula bulan yang selalu menemaninya dalam gelap dan dinginnya malam,
Dan aku bukan pula Bintang, yang bisa dengan gagah dan sombongnya bersinar dengan cahayanya sendiri.
Aku hanya lah Bumi, yang akan selalu menunggu dengan sabar sang Bintang yang letaknya jauh teramat jauh, tinggi teramat tinggi tersebut dapat dengan rela untuk turun ke bumi.
Untuk kemudian aku dapat memeluknya.
Meski entah kapan, dan bagaimana caranya.

Sekarang aku mengerti mengapa bintang yang ku kenal bernama Bintang, karena jika aku diibaratkan sebagai bumi itu menjelaskan betapa jauh jarak diantara kami, berapa lama waktu yang dibutuhkun agar kami mampu untuk berdiri sama rendah duduk sama tinggi.
Bahkan triliun milisekon pun rasanya tidak mampu.

Ketahuilah bahwa aku tidak punya hati seluas samudera untuk mampu selalu memberikan sesuatu, bagaimanapun sebagai manusia naluriku adalah untuk memberi dan menerima.
Tapi kamu Bintang, mengajarkan aku untuk perlahan membuka mataku bahwa memberi tanpa mengharapkan imbalan itu lah yang disebut ketulusan.

Mengenalmu, memperhatikanmu membuatku semakin mengenal arti kata cukup.
Meski kadang hati berkata ingin lebih, namun logika berkata jangan.
Maka aku harus berhenti.
Untuk itu maaf jika aku hanya bisa mencuri pandang dari jauh.
Ikut tersenyum, ikut bersedih.
Baik, anggap lah aku lemah. Aku bodoh. Pecundang.
Silahkan menamparku dengan kata-kata itu, aku janji akan diam.
Karena setidaknya diam adalah keahlianku.

Pernahkah mendengar kata pengagum rahasia?
Itu adalah sebutan untuk orang-orang sepertiku.
Orang yang selalu menahan perasaan dengan berbagai macam alasan yang sebenarnya hanya sebuah alasan untuk menutupi keragu-raguan.

Aku hanya berharap entah dengan cara apa Tuhan bekerja. Suatu saat nanti aku dapat diberi satu saja kesempatan, untuk memberitahu sang Bintang yang mungkin sampai detik terakhir tidak juga mengerti.

Bahwa aku selalu di depannya, di belakangnya, di sampingnya, terkadang beriringan, memanggil namanya, merindukannya, menanti kehadirannya, sembunyi di balik daun pintu, di kolong meja, di atas koridor, di bawah pohon rindang, serupa dengan semak-semak.
Selalu menjadi bayangannya.
Meski tidak pernah ada yang tahu bukan?

Terakhir, jika ada satu kalimat terakhir yang masih bisa disampaikan bumi kepada bintang. Maka tidak lain tidak bukan adalah...

"stars.. if you fall i'll be there"

Selamat malam di tempatmu Bintang, dengan tulus ku ucapkan.