Corat Coret Widad
Ini tentang waktu tentang hati tentang cinta, tentang hidup.
Jumat, 22 Februari 2019
Sepertinya (bukan) Salah Paham
Sabtu, 10 November 2018
Aku Tentang On Your Wedding Day
Selasa, 26 Desember 2017
Layang-layang
Seandainya kau tahu.. layang-layang pun tak ingin menjadi layang-layang yang dibuat, dipercantik untuk sekedar dipermainkan. Dipertontonkan.
Ia juga sesekali ingin untuk dipertaruhkan, terlepas dari resiko memutus atau diputus sama imbang yang dimilikinya.
Aku pun sama..
Hanya sekedar ingin dipertaruhkan, diperjuangkan bukan dengan membiarkanku menggantung mengatung-atung.
Bila ingin aku pergi, baiklah.
Namun jangan datang dengan menguak sesuatu yang susah payah telah ku jadikan kenangan.
Jangan bangkitkan lagi perasaan yang dengan sekuat tenaga aku tahan.
Aku lakukan apa yang bisa ku lakukan untukmu.
Kau memberi satu, aku balas dengan dua, tiga, empat, lima. Meski tak juga kau rasa sama.
Kau biarkan aku terbang tinggi, kemudian menjatuhkanku berkali-kali.
Jika memang tidak lagi diinginkan, aku dengan rendah hati akan mundur perlahan.
Tanpa keras kepala, tanpa keegoisan.
Demi kamu. Demi aku. Perasaanku.
Apa yang sekiranya bisa diharapkan dari mengikat sesuatu dengan sesuatu yang belum pasti?
Seolah digenggam namun tak tergenggam, seolah dihempas namun tak terhempas. Ingin dibuang pun namun rasanya sayang.
Sama dengan perasaan.
Perasaan yang gantung mengatung-ngatung hanya akan membuatku bingung, membuatku linglung.
Maka putuskan taliku yang telah terlalu lama kau ulur, agar aku jatuh ke bawah sampai terbentur.
Atau, tarik taliku yang telah terlampau jauh kau ulur untuk kembali lagi dalam genggaman yang kau gulung.
Karena aku bukan layang-layang,
biarkan aku pergi jika memang ingin aku pergi. Jangan menahanku dengan sesuatu yang bahkan kau sendiri belum yakini.
Bukankah sesuatu yang sudah dilepas harusnya dibiarkan bebas?
Sebaliknya, bukankah sesuatu yang tidak ingin kau lepas harusnya kau jaga dengan ikhlas?
Aku bukan layang-layang.
Yang dibuat, dipercantik, untuk dipermainkan. Dipertontonkan.
Aku adalah aku dengan segala kuasa penuh atas diriku, atau kini dirimu?
Ditarik, diulur, diputus, memutus. Begitulah nasib layang-layang.
Tapi tahukah kau apa yang lebih menyedihkan dari itu semua?
Ketika layang-layang itu putus atau terputus, orang-orang hanya akan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Sangat biasa.
Mereka akan berkacak pinggang berbalik badan dan bubar teratur seolah tidak pernah ada yang terjadi.
Ah. Aku bisa membelinya lagi. Lain kali.
Pikir mereka
Selasa, 22 Desember 2015
Teman Hidup
Mmm.. Walaupun masih banyak yang ingin aku utarakan namun aku putuskan untuk menjadikan ini bagian penutupnya, mengapa?
Karena sebanyak apa pun cerita yang aku tulis tentang perjalanan aku dan Keira orang lain tidak akan merasakan apa yang aku dan Keira rasakan.
Untuk itu, cukup sampai disini, agar hanya aku dan dia yang dapat menyimpan sisa kepingan puzzle yang masih berserakan ini berharap suatu hari ini dapat tersusun dengan rapih. Hanya dengan cara seperti itu orang lain akan mengerti apa yang aku dan ia rasakan.
Ingat, satu tahun lagi untuk menjadi teman seumur hidup.
Untuk itu, kepada Keira yang saat ini tengah berbahagia seiring dengan momen bertambahnya usia, aku hanya dapat berharap semoga tetap menjadi sosok Keira yang ada dalam tulisan ini. Berbahagialah selalu dan semoga aku ada dalam skema kebahagiaan itu, turut merasakannya, bersamamu. Selamat ulangtahun yang ke 20, Keira.
Kamis, 12 November 2015
Tentang Rindu
Kebahagiaan yang hadir dipuncak dua kerinduan,
membawa aku melayang terbang jauh ke awan.
Kau adalah gunung es yang tidak mencair sedikitpun meski kemarau membunuh orang perlahan.
Tapi hari itu..
Hari bahagia itu kau menjadi api unggun yang begitu hangat dengan caramu sendiri.
Tidak masalah,
semua orang punya dua sisi yang hanya bisa ditunjukkan untuk orang-orang terpilih.
Lebih dari itu.. Semua ini berkat rindu yang berada tepat dititik dan garis yang sama.
Tapi sayangku,
bagaimana bisa kita dapat menyatukan garis rindu ini untuk tetap saling merindu?
Bagaimana bisa rasa rindu yang misteri ini dijadikan tolak ukur untuk kita saling menyapa?
Rindu, ya rindu.
Tidak peduli yang lain, hanya sekedar merindu.
Jangan diam dan biarkan orang yang kau rindukan merindukanmu terlalu lama.
Sayang biar ku beritahu,
waktuku merindumu adalah sebanyak aku menatap matamu.
Karena itu, jika kau terbiasa mengajarkanku untuk jauh dari mata itu maka kau mengajarkanku pula untuk tidak merindukanmu.
Rabu, 05 Agustus 2015
Pilihan
Ada 2 jenis orang di dunia ini, yang menyukai pagi dan yang menyukai senja. Menyukai kopi atau menyukai teh, menyukai android atau iphone, dan masih banyak lagi.
Namun tidak ada yang perlu dipermasalahkan akan perbedaan ini, karena setiap orang berhak menemukan rasa nyamannya sendiri. Seperti kisah dua sahabat ini...
Dea adalah penyuka pagi. Karena menurutnya pagi selalu hadir dengan membawa harapan yang baru, usai apa yang terjadi sebelumnya. Dea suka suara kokok ayam dan kicauan burung dipagi hari baginya itu menandakan hal-hal yang baik walaupun tidak selalu namun pasti akan datang. Ia adalah perempuan yang sangat perempuan dengan kata lain feminim, karena itu tentu saja ia cantik hal itu membuat teman wanitanya begitu iri bila kerap kali pergi keluar bersamanya.
Tidak begitu bagi Lia, ia lebih suka senja. Senja dapat membawanya beristirahat sejenak dari penatnya pikiran sebelum bersiap menghadapi kenyataan esok pagi. Senja, terbenamnya matahari, gelapnya malam, bulan dan bintang semua Lia suka. Sempurna.
Lia yang independent, ia dapat melakukan apa yang harus ia lakukan sendiri. Berpikir sangat realistis membuatnya cukup berteman dekat hanya dengan satu teman perempuan (Dea) selebihnya laki-laki, dengan Mempertimbangkan hobi dan demi kesehatan pikirannya ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman lelakinya yang ia nilai lebih easy going. Begitulah, hanya karena rasa nyaman tidak dapat dibeli.
Walaupun begitu, perbedaan tidak membuat keduanya sulit untuk duduk bersama, berbagi pengalaman, menceritakan banyak hal, meringankan beban hidup.
Di pagi yang Dea suka atau di senja yang begitu Lia puja. Keduanya kerap saling menyandarkan pundak, dan menumpahkan segalanya.
Pembicaraan dua wanita di usia tanggung, tidak pernah lepas dari laki-laki. Bagaimana pun topik tentang laki-laki dan perempuan, semuanya selalu menarik.
Namun bagi Dea dan Lia pembicaraan mereka bukan tentang bagaimana cara meraih hati seorang laki-laki ke laki-laki yang satunya lagi, bukan pula menceritakan getirnya pasca berakhirnya suatu hubungan, bukan saling berbisik mengomentari laki-laki yang akan atau sedang coba untuk didekati.
Melainkan menertawakan semua kebodohan yang dengan atau tanpa sengaja dilakukan dahulu ketika memilih untuk menjalin sebuah hubungan.
Keduanya tidak merasa terlalu terintimidasi untuk menjalin sebuah hubungan baru, atau pun takut untuk memulainya. Tapi mereka berkata terlanjur nyaman dengan kesendirian. Entah lah, meski terdengar seperti sebuah alasan.
Lebih dari itu, sendiri adalah sebuah pilihan. Meski terkadang pilihan yang kita buat membuat orang lain menertawakan kita.
Mungkin dibalik tawaan dan cibiran itu benar.
Dea dan Lia diam-diam menyimpan ketakutan akan sesuatu yang sama akan terulang lagi, masa-masa menyedihkan yang susah payah dilewati harus terjadi lagi. Maka dari itu keduanya lebih memilih untuk menjalani hidup sendiri (bukan dalam kesendirian) dari pada menjalani hubungan (dengan orang yang salah).
Menjalani hidup bisa saja tanpa menjalani hubungan. Tapi ketika menjalani hubungan tentu saja harus menjalani hidup, karena mereka beriringan.
Dea dan Lia memilih untuk belajar dari kehidupannya yang dulu, yang begitu terkungkung dalam satu kotak berbentuk hati bernama cinta, atau begitu menyedihkan layaknya sebuah drama.
Hal itu terjadi bukan karena ada sesuatu yang masih membara di hati keduanya, melainkan karena sudah amat teramat padam sehingga dapat terbuka dan berpikir secara objektif.
Pernahkan kalian berpikir sebatas mana tingakatan tertinggi seseorang usai mengalami patah hati? Jawabannya adalah ketika ia mampu menceritakan kembali apa yang telah terjadi tanpa ada lagi kesedihan. Menyadari bahwa itu semua adalah bagian dari perjalanan hidup, dan seperti dibalik pekatnya hitam selalu ada cahaya putih yang menyilaukan. Itu lah sebabnya ada kebaikan yang mengiringi keburukan.
Keduanya bukan terlalu jauh jatuh ke dalam hingga lupa caranya bangkit dan mencoba sesuatu yang baru. Mereka bangkit, bahkan berusaha keluar dari lubang yang berbeda kemudian menandakan bahwa lubang ini sangat berbahaya, bila jatuh menyakitkan, dan sepertinya bukan untuk main-main.
Karena itu ada hal-hal yang menjadi komitmen antara mereka dengan diri mereka sendiri.
Sebuah komitmen yang orang lain tidak mengerti. Atau bahkan diri mereka pun tidak mengerti, sebatas mana komitmen itu.
Kedua sahabat itu hanya tahu bagaimana rasanya bangkit dan merasakan hebatnya kehidupan yang mandiri tanpa perlu takut menyakiti hati seseorang yang perlu dijaga hatinya.
Berteman sebebas-bebasnya, bergaul dengan kalangan mana saja asal tahu batasnya, tangan tidak terborgol handphone, menikmati masa-masa muda yang bahkan tidak akan pernah bisa tergantikan meskipun dapat hidup ratusan tahun lagi.
Karena terlalu lamanya melihat ku sendiri, seseorang yang aku kenal sempat berkata, "ada 2 alasan kenapa seseorang gak mau lagi memulai sebuah hubungan dengan lawan jenis, yang pertama:
karena tidak pernah berkumpul bersama lawan jenis, tidak mempunyai teman lawan jenis, tidak terbiasa berada diantara lawan jenis.
Dan yang kedua, sebaliknya, selalu berkumpul dengan lawan jenis, terlalu banyak mempunyai teman lawan jenis, merasa terlalu nyaman berada diantara lawan jenis."
Kemudian ia kembali berkata,
"Kayanya lo udah tau lu yang pertama atau yang kedua. Ckck"
Aku hanya tersenyum, seakan mengingat Dea dan segalanya. Dea yang begitu feminim, mengikuti klub menjahit yang sempurna hanya ada perempuan. Dan aku yang ya....kalian dapat melihatnya sendiri.
Meski begitu, dengan alasan yang berbeda namun dengan perasaan hati yang sama.
Dea pernah berkata,
"Orang-orang yang punya pacar gatau gimana nikmatnya jadi kita jomblo murni yang hatinya ga terikat dan mengikat siapa pun. Hidup itu mahal makanya berharga. Sayang aja mereka gatau...."
Aku kembali tersenyum. Memeluk Dea, sahabatku.
True Story: DW.
Jumat, 13 Maret 2015
Karena Dia Bintang
Untuk yang jauh teramat jauh, yang tinggi teramat tinggi.
Menempel dengan langit, bergerak bersama waktu.
Selamat Pagi di kehidupanmu Bintang. Semoga harimu menyenangkan! Dari aku yang hanya selalu mampu memandang dari balik punggungmu. Meski harum rambut ikal menggemaskan itu mampu ku cium, meski tangan mungil berwarna kecoklatan itu sangat mampu ku raih.
Sekali lagi ku ucapkan, Selamat Pagi!
Kamis adalah pekerjaan rumah untukku, karena harus berangkat kuliah lebih awal untuk kelas pertamaku.
Pagi itu pukul 07.52 seperti biasa aku hadir lebih awal. Aku mengambil satu batang rokok sambil sesekali menyeruput kopi instan yang baru saja aku beli.
Rokok pertama pagi ini, kopi pertama pagi ini, dan senyum serta sapaan pertama pagi ini
"Kaak..ada kelas pagi?"
Nada yang diucapkan dengan lembut, dengan senyum dan anggukan kepala. Terlalu biasa dan basa-basi sekali.
Tapi aku suka, dan itu lah alasanku berada disini.
Ya.. Perkenalkan, dia adalah Bintangku atau sebut saja dia adalah Bintang yang aku aku-aku-kan.
Sebagai seorang Bintang ia tergolong amat sederhana. Lihat saja pakaiannya, kemeja lengan panjang, rambut pendek yang diikat asal-asalan, skinny jeans, dan juga sneakers.
Sudah sejak lama aku memperhatikannya dan aku dapat pastikan bahwa tidak pernah ada riasan diwajahnya.
Lagi pula untuk apa memakai riasan?
Toh dengan dia seperti itu saja sudah bisa membuatku menggila.
Bayangkan! Seseorang sepertiku rela hadir dikelas +- 30 menit sebelum kelas dimulai hanya karena aku tahu ia akan datang 15 menit sebelum kelasnya yang berada tepat di samping kelasku dimulai.
Kalau bukan karena cinta, maka apa lagi?
Kadang aku mencibir diriku sendiri yang hanya bisa terdiam ketika Bintang melintas di depan ku.
Kadang aku menertawakan kebodohan macam apa yang aku pelihara ketika ia tepat di depan mataku aku tidak bisa menggerakkan tangan ku untuk skedar menepuk bahunya sebagai tanda
"Hai Bintang, aku disini loh"
Sempat terpikir untuk menariknya agar duduk bersebelahan denganku, berbagi, dan bercerita tentang banyak hal.
Tapi semua terasa begitu sulit.
Ya, aku memang sering menatap wajahnya, namun sesering itu pula lah aku merasa bahwa selalu punggungnya yang aku tatap, mengapa?
Karena ia tidak pernah menatap ku seperti aku menatapnya.
Tak jarang pula aku bertegur sapa dengannya, namun tak jarang aku merasakan bahwa itu hanyalah komunikasi satu arah yang sebenarnya tidak bisa dibilang itu adalah sebuah komunikasi.
Bisa dibilang sebatas basa-basi.
Pemanis yang sebenarnya tidak terlalu manis.
"Kaa.."
"Eh Bintang, mau kemana?"
"Fotokopi ka. Duluan ya."
"Oh iya."
.
.
Selesai. Selalu seperti itu. Kemudian ia hilang ditengah kerumunan bintang lain,awan,pelangi,hewan,serangga, dll.
Bintang yang berarti begitu besar untukku . Bintang yang mampu memutar balikkan menjungkir balikkan hati dan pikiranku, meski aku bahkan tidak berarti apa-apa.
Aku harus apa ?
Aku bukan matahari yang mampu memberikannya waktu untuk setidaknya terpejam setelah lelah terjaga dimalam hari,
Aku juga bukan awan yang bisa berjalan ke manapun agar bisa terus mengikutinya,
Aku bukan pula bulan yang selalu menemaninya dalam gelap dan dinginnya malam,
Dan aku bukan pula Bintang, yang bisa dengan gagah dan sombongnya bersinar dengan cahayanya sendiri.
Aku hanya lah Bumi, yang akan selalu menunggu dengan sabar sang Bintang yang letaknya jauh teramat jauh, tinggi teramat tinggi tersebut dapat dengan rela untuk turun ke bumi.
Untuk kemudian aku dapat memeluknya.
Meski entah kapan, dan bagaimana caranya.
Sekarang aku mengerti mengapa bintang yang ku kenal bernama Bintang, karena jika aku diibaratkan sebagai bumi itu menjelaskan betapa jauh jarak diantara kami, berapa lama waktu yang dibutuhkun agar kami mampu untuk berdiri sama rendah duduk sama tinggi.
Bahkan triliun milisekon pun rasanya tidak mampu.
Ketahuilah bahwa aku tidak punya hati seluas samudera untuk mampu selalu memberikan sesuatu, bagaimanapun sebagai manusia naluriku adalah untuk memberi dan menerima.
Tapi kamu Bintang, mengajarkan aku untuk perlahan membuka mataku bahwa memberi tanpa mengharapkan imbalan itu lah yang disebut ketulusan.
Mengenalmu, memperhatikanmu membuatku semakin mengenal arti kata cukup.
Meski kadang hati berkata ingin lebih, namun logika berkata jangan.
Maka aku harus berhenti.
Untuk itu maaf jika aku hanya bisa mencuri pandang dari jauh.
Ikut tersenyum, ikut bersedih.
Baik, anggap lah aku lemah. Aku bodoh. Pecundang.
Silahkan menamparku dengan kata-kata itu, aku janji akan diam.
Karena setidaknya diam adalah keahlianku.
Pernahkah mendengar kata pengagum rahasia?
Itu adalah sebutan untuk orang-orang sepertiku.
Orang yang selalu menahan perasaan dengan berbagai macam alasan yang sebenarnya hanya sebuah alasan untuk menutupi keragu-raguan.
Aku hanya berharap entah dengan cara apa Tuhan bekerja. Suatu saat nanti aku dapat diberi satu saja kesempatan, untuk memberitahu sang Bintang yang mungkin sampai detik terakhir tidak juga mengerti.
Bahwa aku selalu di depannya, di belakangnya, di sampingnya, terkadang beriringan, memanggil namanya, merindukannya, menanti kehadirannya, sembunyi di balik daun pintu, di kolong meja, di atas koridor, di bawah pohon rindang, serupa dengan semak-semak.
Selalu menjadi bayangannya.
Meski tidak pernah ada yang tahu bukan?
Terakhir, jika ada satu kalimat terakhir yang masih bisa disampaikan bumi kepada bintang. Maka tidak lain tidak bukan adalah...
"stars.. if you fall i'll be there"
Selamat malam di tempatmu Bintang, dengan tulus ku ucapkan.
