Dedicated to everyone who wonders if i'm writing about them. I am.

Minggu, 12 Oktober 2014

Candu merindu

Mungkin kalo ada yang bilang cinta itu candu, bener banget.
Menurut gue cinta itu kayak narkoba dalam bentuk lain, manis dan bikin ketagihan.
Datangnya tiba-tiba gak bisa ditolak, gak bisa juga di tunda.
Kalo dateng yaudah nikmatin, jalanin...
Kalo disembunyi-sembunyiin yang ada nanti kaya penyakit makin lama dipendam bisa gila.
Cinta itu tentang gimana cara lo ekspresiin cinta lo buat seseorang. Seseorang ya, bukan banyak orang.
Jadi ya gak heran kalo orang yang lagi jatuh cinta bentar-bentar nanya,
'Kamu lagi apa?'
'kamu dimana?'
'lagi sama siapa?'
'semalem ngapain aja?'
karena itu wujud cinta yang hadir dalam bentuk perhatian.
Tapi yang wajar lah yaaa.
Cinta itu kan abstrak. Ga ada bentuknya. Tapi kenapa kita bisa tau kalo yang kita rasain itu cinta?
Ya, karena kita punya hati..
Mungkin mata bisa salah lihat, telinga bisa salah mendengar, tapi hati gak akan pernah salah merasakan.
Perhatian yang datang karena benar-benar ingin tahu, penasaran, atau sekedar iseng karena kesepian.
Jangan baper, jangan cepet gr.
Ilmunya grandong emang paling mantab.
Gue sih kasih tau aja banyak yang datang mungkin cuma karena lelah dari perjalanan panjang, ada yang datang karena luka dan minta disembuhin, ada yang datang karena butuh hiburan, dan ada juga yang datang karena emang angin yang membawanya kesana.
Nah yang terakhir ini mesti lo pertanyain,
'Kenapa dateng ke gue?'
Walaupun sebenernya kedatangan yang tiba-tiba kaya gini gak mesti dipertanyain alasannya. Gak akan pernah ketemu.
Dia datang, karena dia mau datang. Karena takdir yang membawanya.
Ya!! Sebenernya jatuh cinta hanya se simple itu.
Sayangnya gak gampang dong kita buat nerima gitu aja, ada banyak hal yang harus kita pastiin.
Kayak,
'dia sebenernya punya pacar gak?'
atau
'Udah berapa lama jomblo sampe akhirnya ketemu gue?'
Jangan sampe deh lo jatuh cinta sama orang yang udah punya pacar. Kalo sekedar suka sih gapapa asal jangan cinta deh, susah.
Kalo jarak putus sama ketemu kitanya masih dalam hitungan minggu mending tahan dulu, karena mungkin ada indikasi kita mirip mantan sebelumnya atau kita cuma pengisi kekosongan.
Jangan. Jangan kasih hati kita buat orang-orang kayak gitu.
Gue bukan selalu nethink sama orang-orang yang coba mendekat.
Tapi gue punya cerita yang bikin gue gak mau ngulang kisah dengan ending yang sama.
Terlalu berlebihan untuk dibilang trauma, gue lebih suka nyebutnya pelajaran.
Dan berkat semua itu bikin gue jadi lebih hati-hati untuk kembali memberikan hati gue mempercayakan seseorang untuk berbagi dan masuk kembali ke zona yang namanya cinta ini.
Makanya kalo ada yang bilang,
'cari pacar dad, temen kuliah pasti banyak yang keren'
gue cuma ketawa aja, sambil bilang dalem hati,
yang keren banyak, yang mau ama gue susaaaah.

Inti dari semua ini adalah, sebenernya gue selalu merindukan hal-hal kecil yang sebenarnya remeh-temeh kayak ucapan selamat pagi,atau selamat malam kayak zaman dulu gue punya pacar. Gue merindukan rasanya merindu seseorang, perasaan bahagia yang muncul ketika liat dia dari kejauhan.
Merindukan rasa bahagia waktu berdua, walaupun sebenernya cuma keliling kota naik motor ditengah hujan.

Tapi setelah gue pikir lagi, gue inget-inget lagi apa yang terjadi setelah semuanya gak semanis diawal gue pacaran. Rasanya tidur tanpa diawali ucapan
'Selamat malam' dengan embel-embel emot yang banyak banget.
itu akan baik-baik aja, gue ga mimpi buruk karenanya.
Gue juga tetep bisa nikmatin indahnya kota Jakarta ditengah hujan meski sekarang gue berkendara sendiri.
Tapi perasaan merindu ini.
Ga bisa dong gue tiba-tiba merindukan diri gue sendiri kaya gue ngalakuin hal lain sendiri.
Gue butuh sosok. Seseorang yang kehadiran atau ketidakhadirannya membuat gue merindu.

Yaa..dengan kesendirian gue sekarang, gue nyaman.
Walaupun mungkin gak sebahagia berdua, karena gimana pun juga, two better than one kan?
Tapi gue coba nikmatin.
Kalo tiba-tiba besok atau lusa ada yang coba ketuk pintu gue dan coba buat "ganggu" gue, ya kita liat aja gimana nanti..

Walaupun cinta itu candu, kesendirian gue mungkin penawarnya.
Gue gak pernah menutup diri kok, silahkan dekat kalo mau dekat. Tapi jangan kalo niatnya untuk pergi dalam waktu yang dekat pula.
Karena gue taurus,
'Kamu dekat, aku dekat. Kamu jauh, aku bisa pergi lebih jauh'.
Jadi. Ini lah gue, wdyt?

Jumat, 10 Oktober 2014

Janji Tinggal Janji

"Aku sayang kamu. Aku udah cape main-main, jangan tinggalin aku. Aku gamau nambah mantan"

Dengan kepercayaan yang ku miliki ku berikan hatiku pada laki-laki yang mengatakan hal sesingkat ini sekalipun hanya lewat pesan singkat.
Ku titipkan perasaanku, berharap akan ia jaga dan selalu ia sirami oleh kasih serta sayang.

Aku bukan fakir asmara yang kekurangan kasih sayang. Aku dapatkan! Entah itu dari keluarga, sahabat atau pun teman-teman. Tapi aku hanya ingin berbagi, berbagi hal yang sedikit istimewa. Yaitu, tentang aku,  tentang dunia ku, dan tentang hidup ku.
Aku ingin miliki seseorang yang bisa menjadi tempat ku bersandar, dimana keluh kesah ku dapat tercurahkan. Tanpa perlu perlu ada keraguan.

Dan dititik kejenuhan ku akan kesendirian akhirnya kamu yang datang.
Mungkin kamu bukan yang pertama, tapi kamu berjanji seolah akan menjadi yang terakhir.
Aku bukan orang bodoh.
Tapi karena cinta dan kamu seketika otak ku lumpuh, aku tidak lagi dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang halusinasi.
Yang aku pikirkan hanyalah,

'Oh Tuhan, terimakasih telah kirimkan laki-laki sebaik dia dalam hidupku'

Meski sebenarnya logika sempat berkata,

Sampai kapan akan terus baik seperti ini?
yakin kalo dia yang terbaik?

tapi lagi dan lagi perasaan mengalahkan,

Nikmatin aja prosesnya, selama semua baik-baik aja. Yakin kalo dia yang terbaik.

Ternyata ungkapan,
"Jika kau tahu sesuatu akan berakhir menyakitkan, sanggupkah kau menyudahinya saat masih terasa indah?" Itu benar. Aku merasakannya.

Setelah sekian banyak canda tawa terlewati kini hanya diam yang tersisa.
Diam yang bukan lagi tawa bukan juga tangis.
Kamu yang hanyut dalam dunia mu sendiri.
Melupakan aku yang kerap menanti, entah itu satu dua malam tanpa kabar, entah kemana, entah dengan siapa...
Aku hanya khawatir, sebatas itu.
Tapi sedikitpun kamu tidak peduli akan kekhawatiranku.
Dan pada akhirnya, pada kekhawatiran yang sebenarnya untuk kamu aku lah yang harus berjuang.
Sakit. Jelas. Tapi aku bertahan.

Semua berkata,
"tinggalin, brengsek laki kaya gitu maaah"

Tapi lihat aku. Aku masih disini, meski lelah aku menanti, ditemani sisa-sisa perasaan yang dengan susah payah ku pertahankan.
Ingat kah kamu akan janji-janji mu?
Atau aku harus mengingatkannya kembali, karena aku masih begitu ingat seakan baru kemarin kau ucapkan.

Kadang aku berpikir jika janji dan ucapan seorang laki-laki yang cukup dewasa sepertimu tidak lagi dapat dipercaya, maka apa yang tersisa di bumi ini?
Jika janji yang sejatinya sakral dapat dengan mudah dipermainkan. Maka ungkapan seperti apa lagi yang dapat meyakinkan betapa seriusnya perkataan?
Entah...

Silahkan pergi jika ingin pergi, silahkan menjauh jika ingin menjauh, silahkan mencari jika ingin mencari.
Tapi ingat, ada kontrak perasaan yang terlebih dahulu harus diselesaikan.
Aku tidak ingin berhenti. Kamu yang menginginkan. Maka kamu yang harus berjuang menghentikannya.

Aku percaya kamu laki-laki yang sudah cukup dewasa, aku percaya kamu dapat bertanggung jawab akan apa yang kamu pilih.
Mungkin arti aku tidak lagi sama seperti dulu, aku menjadi begitu kecil nyaris tak terlihat tapi aku masih padamu. Bodoh? Memang.
Dan mungkin kamu tidak akan pernah mengerti, tapi aku hanya akan berhenti jika aku ingin berhenti.
Setidaknya ini adalah keegoisan terakhir ku untuk hubungan ini.


True Story, inspired by: NDA