"Aku sayang kamu. Aku udah cape main-main, jangan tinggalin aku. Aku gamau nambah mantan"
Dengan kepercayaan yang ku miliki ku berikan hatiku pada laki-laki yang mengatakan hal sesingkat ini sekalipun hanya lewat pesan singkat.
Ku titipkan perasaanku, berharap akan ia jaga dan selalu ia sirami oleh kasih serta sayang.
Aku bukan fakir asmara yang kekurangan kasih sayang. Aku dapatkan! Entah itu dari keluarga, sahabat atau pun teman-teman. Tapi aku hanya ingin berbagi, berbagi hal yang sedikit istimewa. Yaitu, tentang aku, tentang dunia ku, dan tentang hidup ku.
Aku ingin miliki seseorang yang bisa menjadi tempat ku bersandar, dimana keluh kesah ku dapat tercurahkan. Tanpa perlu perlu ada keraguan.
Dan dititik kejenuhan ku akan kesendirian akhirnya kamu yang datang.
Mungkin kamu bukan yang pertama, tapi kamu berjanji seolah akan menjadi yang terakhir.
Aku bukan orang bodoh.
Tapi karena cinta dan kamu seketika otak ku lumpuh, aku tidak lagi dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang halusinasi.
Yang aku pikirkan hanyalah,
'Oh Tuhan, terimakasih telah kirimkan laki-laki sebaik dia dalam hidupku'
Meski sebenarnya logika sempat berkata,
Sampai kapan akan terus baik seperti ini?
yakin kalo dia yang terbaik?
tapi lagi dan lagi perasaan mengalahkan,
Nikmatin aja prosesnya, selama semua baik-baik aja. Yakin kalo dia yang terbaik.
Ternyata ungkapan,
"Jika kau tahu sesuatu akan berakhir menyakitkan, sanggupkah kau menyudahinya saat masih terasa indah?" Itu benar. Aku merasakannya.
Setelah sekian banyak canda tawa terlewati kini hanya diam yang tersisa.
Diam yang bukan lagi tawa bukan juga tangis.
Kamu yang hanyut dalam dunia mu sendiri.
Melupakan aku yang kerap menanti, entah itu satu dua malam tanpa kabar, entah kemana, entah dengan siapa...
Aku hanya khawatir, sebatas itu.
Tapi sedikitpun kamu tidak peduli akan kekhawatiranku.
Dan pada akhirnya, pada kekhawatiran yang sebenarnya untuk kamu aku lah yang harus berjuang.
Sakit. Jelas. Tapi aku bertahan.
Semua berkata,
"tinggalin, brengsek laki kaya gitu maaah"
Tapi lihat aku. Aku masih disini, meski lelah aku menanti, ditemani sisa-sisa perasaan yang dengan susah payah ku pertahankan.
Ingat kah kamu akan janji-janji mu?
Atau aku harus mengingatkannya kembali, karena aku masih begitu ingat seakan baru kemarin kau ucapkan.
Kadang aku berpikir jika janji dan ucapan seorang laki-laki yang cukup dewasa sepertimu tidak lagi dapat dipercaya, maka apa yang tersisa di bumi ini?
Jika janji yang sejatinya sakral dapat dengan mudah dipermainkan. Maka ungkapan seperti apa lagi yang dapat meyakinkan betapa seriusnya perkataan?
Entah...
Silahkan pergi jika ingin pergi, silahkan menjauh jika ingin menjauh, silahkan mencari jika ingin mencari.
Tapi ingat, ada kontrak perasaan yang terlebih dahulu harus diselesaikan.
Aku tidak ingin berhenti. Kamu yang menginginkan. Maka kamu yang harus berjuang menghentikannya.
Aku percaya kamu laki-laki yang sudah cukup dewasa, aku percaya kamu dapat bertanggung jawab akan apa yang kamu pilih.
Mungkin arti aku tidak lagi sama seperti dulu, aku menjadi begitu kecil nyaris tak terlihat tapi aku masih padamu. Bodoh? Memang.
Dan mungkin kamu tidak akan pernah mengerti, tapi aku hanya akan berhenti jika aku ingin berhenti.
Setidaknya ini adalah keegoisan terakhir ku untuk hubungan ini.
True Story, inspired by: NDA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar