Dedicated to everyone who wonders if i'm writing about them. I am.

Jumat, 13 Maret 2015

Karena Dia Bintang

Untuk yang jauh teramat jauh, yang tinggi teramat tinggi.
Menempel dengan langit, bergerak bersama waktu.

Selamat Pagi di kehidupanmu Bintang. Semoga harimu menyenangkan! Dari aku yang hanya selalu mampu memandang dari balik punggungmu. Meski harum rambut ikal menggemaskan itu mampu ku cium, meski tangan mungil berwarna kecoklatan itu sangat mampu ku raih.
Sekali lagi ku ucapkan, Selamat Pagi!

Kamis adalah pekerjaan rumah untukku, karena harus berangkat kuliah lebih awal untuk kelas pertamaku.
Pagi itu pukul 07.52 seperti biasa aku hadir lebih awal. Aku mengambil satu batang rokok sambil sesekali menyeruput kopi instan yang baru saja aku beli.
Rokok pertama pagi ini, kopi pertama pagi ini, dan senyum serta sapaan pertama pagi ini
"Kaak..ada kelas pagi?"
Nada yang diucapkan dengan lembut, dengan senyum dan anggukan kepala. Terlalu biasa dan basa-basi sekali.
Tapi aku suka, dan itu lah alasanku berada disini.

Ya.. Perkenalkan, dia adalah Bintangku atau sebut saja dia adalah Bintang yang aku aku-aku-kan.

Sebagai seorang Bintang ia tergolong amat sederhana. Lihat saja pakaiannya, kemeja lengan panjang, rambut pendek yang diikat asal-asalan, skinny jeans, dan juga sneakers.
Sudah sejak lama aku memperhatikannya dan aku dapat pastikan bahwa tidak pernah ada riasan diwajahnya.
Lagi pula untuk apa memakai riasan?
Toh dengan dia seperti itu saja sudah bisa membuatku menggila.
Bayangkan! Seseorang sepertiku rela hadir dikelas +- 30 menit sebelum kelas dimulai hanya karena aku tahu ia akan datang 15 menit sebelum kelasnya yang berada tepat di samping kelasku dimulai.
Kalau bukan karena cinta, maka apa lagi?

Kadang aku mencibir diriku sendiri yang hanya bisa terdiam ketika Bintang melintas di depan ku.
Kadang aku menertawakan kebodohan macam apa yang aku pelihara ketika ia tepat di depan mataku aku tidak bisa menggerakkan tangan ku untuk skedar menepuk bahunya sebagai tanda
"Hai Bintang, aku disini loh"
Sempat terpikir untuk menariknya agar duduk bersebelahan denganku, berbagi, dan bercerita tentang banyak hal.
Tapi semua terasa begitu sulit.

Ya, aku memang sering menatap wajahnya, namun sesering itu pula lah aku merasa bahwa selalu punggungnya yang aku tatap, mengapa?
Karena ia tidak pernah menatap ku seperti aku menatapnya.
Tak jarang pula aku bertegur sapa dengannya, namun tak jarang aku merasakan bahwa itu hanyalah komunikasi satu arah yang sebenarnya tidak bisa dibilang itu adalah sebuah komunikasi.
Bisa dibilang sebatas basa-basi.
Pemanis yang sebenarnya tidak terlalu manis.
"Kaa.."
"Eh Bintang, mau kemana?"
"Fotokopi ka. Duluan ya."
"Oh iya."
.
.
Selesai. Selalu seperti itu. Kemudian ia hilang ditengah kerumunan bintang lain,awan,pelangi,hewan,serangga, dll.

Bintang yang berarti begitu besar untukku . Bintang yang mampu memutar balikkan menjungkir balikkan hati dan pikiranku, meski aku bahkan tidak berarti apa-apa.

Aku harus apa ?

Aku bukan matahari yang mampu memberikannya waktu untuk setidaknya terpejam setelah lelah terjaga dimalam hari,
Aku juga bukan awan yang bisa berjalan ke manapun agar bisa terus mengikutinya,
Aku bukan pula bulan yang selalu menemaninya dalam gelap dan dinginnya malam,
Dan aku bukan pula Bintang, yang bisa dengan gagah dan sombongnya bersinar dengan cahayanya sendiri.
Aku hanya lah Bumi, yang akan selalu menunggu dengan sabar sang Bintang yang letaknya jauh teramat jauh, tinggi teramat tinggi tersebut dapat dengan rela untuk turun ke bumi.
Untuk kemudian aku dapat memeluknya.
Meski entah kapan, dan bagaimana caranya.

Sekarang aku mengerti mengapa bintang yang ku kenal bernama Bintang, karena jika aku diibaratkan sebagai bumi itu menjelaskan betapa jauh jarak diantara kami, berapa lama waktu yang dibutuhkun agar kami mampu untuk berdiri sama rendah duduk sama tinggi.
Bahkan triliun milisekon pun rasanya tidak mampu.

Ketahuilah bahwa aku tidak punya hati seluas samudera untuk mampu selalu memberikan sesuatu, bagaimanapun sebagai manusia naluriku adalah untuk memberi dan menerima.
Tapi kamu Bintang, mengajarkan aku untuk perlahan membuka mataku bahwa memberi tanpa mengharapkan imbalan itu lah yang disebut ketulusan.

Mengenalmu, memperhatikanmu membuatku semakin mengenal arti kata cukup.
Meski kadang hati berkata ingin lebih, namun logika berkata jangan.
Maka aku harus berhenti.
Untuk itu maaf jika aku hanya bisa mencuri pandang dari jauh.
Ikut tersenyum, ikut bersedih.
Baik, anggap lah aku lemah. Aku bodoh. Pecundang.
Silahkan menamparku dengan kata-kata itu, aku janji akan diam.
Karena setidaknya diam adalah keahlianku.

Pernahkah mendengar kata pengagum rahasia?
Itu adalah sebutan untuk orang-orang sepertiku.
Orang yang selalu menahan perasaan dengan berbagai macam alasan yang sebenarnya hanya sebuah alasan untuk menutupi keragu-raguan.

Aku hanya berharap entah dengan cara apa Tuhan bekerja. Suatu saat nanti aku dapat diberi satu saja kesempatan, untuk memberitahu sang Bintang yang mungkin sampai detik terakhir tidak juga mengerti.

Bahwa aku selalu di depannya, di belakangnya, di sampingnya, terkadang beriringan, memanggil namanya, merindukannya, menanti kehadirannya, sembunyi di balik daun pintu, di kolong meja, di atas koridor, di bawah pohon rindang, serupa dengan semak-semak.
Selalu menjadi bayangannya.
Meski tidak pernah ada yang tahu bukan?

Terakhir, jika ada satu kalimat terakhir yang masih bisa disampaikan bumi kepada bintang. Maka tidak lain tidak bukan adalah...

"stars.. if you fall i'll be there"

Selamat malam di tempatmu Bintang, dengan tulus ku ucapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar