Dedicated to everyone who wonders if i'm writing about them. I am.

Sabtu, 13 Desember 2014

Menyerah sajalah

Ada yang ingin perasaanku sampaikan, ada yang ingin pikiranku utarakan, tapi hati berbisik pelan
"simpan sendiri, Ia tidak akan pernah mengerti."

Maka ku coba setengah mati untuk tidak menyampaikannya tepat didepan wajahmu, ku coba bersikap tenang mesti hati ini bergemuruh seperti ingin meledak setiap kali melihatmu dan tanpa sadar tersebut namamu.
Aku harus apa? ingin berlari ke arah mu pun sepertinya amat jauh walaupun sebenarnya sangat dekat.

Meski kamu tidak selalu mengingat namaku, tidak terlalu ingin bertemu denganku, tidak perlu tahu apa yang aku inginkan setidaknya ingatlah bahwa aku bom waktu.
Bom waktu yang bahkan tidak tahu kapan akan meledak.
Aku hanya tahu ada sesuatu dalam hatiku yang mendesak untuk keluar.
Entah itu amarah entah itu kasih sayang entah itu cinta.
Yang aku harapkan ia berbentuk amarah, agar aku dapat sepenuh hati membencimu dan tidak berharap untuk bertemu denganmu lagi, ah rasanya itu terlalu sulit...setidaknya aku ingin detak jantung ini bekerja dengan normal ketika berhadapan denganmu, tidak lebih cepat pun lebih lambat.
Aku ingin berbicara dengan lantang menatap lurus pada matamu meyakinkan bahwa tidak ada satupun yang tersisa dalam hatiku.

Bom waktu dalam hatiku akankah mampu memberikan tanda bahwa aku ada?
Sepertinya tidak. Kamu terlalu sibuk dengan duniamu,  aku hanyalah bagian terkecil teramat kecil yang meski terkadang dibutuhkan tapi selalu ada yang bisa menggantikan.

Maka ketika ku membuka mata dipagi hari ini ku tuliskan sejumlah baris kata yang ku tujukan untuk hatiku sendiri..

Sudahlaah menyerah saja, kubur dalam-dalam bom waktu yang ada dalam hati ini. Entah ia meledak atau tidak, entah itu menimbulkan bencana atau semua akan baik-baik saja ia tidak akan peduli.

Aku tidak tahu apa arti aku untuknya.
Mungkin aku hanyalah debu, berada disudut ruangan yang bisa dienyahkan oleh satu hembusan angin tanpa menimbulkan efek apapun selain bersin-bersin.
Aku tidak berarti.
Maka akan kubiarkan kamu pergi sebelum semuanya membekas semakin dalam.

Aku hanya akan memikirkan orang-orang yang peduli denganku, mensyukuri kehadiran mereka yang masih ingin bersamaku, dan berterimakasih dengan mereka yang selalu ada untuk merangkulku.

Pelangi tetaplah pelangi.
Tujuh rupa warnanya memang dapat memberikan keindahan tersendiri. Tapi setelah itu?
Ia harus perlahan memudar seiring dengan kembalinya matahari.

Untuk apa indah jika hanya sesaat?
Jadilah matahari, bukan pelangi.
Meski panasnya terkadang membuat sakit kepala tapi tidak ada didunia ini yang tidak mengharapkan kehadirannya.

Terakhir, Aku hanya ingin mengingatkan, jika kamu memberikan ku kesempatan untuk lebih berarti dalam hidupmu.
Maka aku akan melampaui harapanmu.
Jika kamu mampu mencintaiku bahkan untuk sebentar, maka akan ku puisikan kamu berlembar-lembar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar