Dedicated to everyone who wonders if i'm writing about them. I am.

Senin, 29 Desember 2014

Sebut Saja Dia (Bunga)

Aku seorang bayi yang terlahir abnormal dengan sederet penyakit yang mengidap tubuh kecilku.
Diusia muda yang seharusnya aku bisa bermain sepuasnya, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk keluar masuk Rumah Sakit.
Beruntungnya aku punya orangtua yang tidak putus-putus berusaha untuk kesembuhanku, disisi lain itu lah yang membuatku bersyukur.
Aku terlahir dari keluarga yang cukup terpandang, setidaknya dilingkunganku. Bukan, bukan karena keluargaku kaya tapi karena hal-hal yang tidak bisa ku jelaskan hanya dengan barisan kata-kata.

Pada saat duduk dibangku Sekolah Dasar, aku dipertemukan dengan seorang gadis anggun yang merupakan anak dari teman ayahku, sebut saja namanya Bunga. Kami sering bermain bersama, dia adalah wanita pertama yang ku temui setelah ibu ku sendiri.
Seiring berjalannya waktu, muncul kesepakatan antara keluarga ku dan keluarga Bunga untuk menjodohkan ku dengannya.
Aku yang saat itu masih terlalu kecil bahkan tidak terlalu memikirkan apa arti dari perjodohan itu sendiri.
Jangankan arti perjodohan, berpikir untuk memimpikan berjodoh dengan siapa pun rasanya belum sempat.
Aku hanya menyerahkan semuanya pada waktu untuk menjawab apakah perjodohan ini benar atau justru sebaliknya...

Bunga..gadis anggun, yang didalam tubuhnya mengalir darah yang berbeda denganku, membuatnya semakin terlihat cantik.
Aku mengakuinya tapi sedikitpun tidak mempengaruhi hatiku untuk memanfaatkan kedekatan yang sudah terjalin untuk mendapatkan perhatian lebih darinya.
Setidaknya untuk saat ini.

Tapi tunggu, ternyata Bunga bukan wanita yang mudah menyerah karena pada akhirnya ia mampu menembus relung hatiku saat aku jatuh-bangun-jatuh hingga kembali terbangun untuk melawan penyakitku.
Dengan berada disampingku, memberiku semangat.

Waktu demi waktu berlalu, beriringan dengan mencairnya gunung es dikutub utara..
Entah sejak kapan kami mulai rajin saling berkirim surat.
Surat yang mungkin hanya sekedar menyapa, atau bahkan lebih dari itu surat yang isinya tentang sebuah perasaan yang dengan nyata disembunyikan.

Aku tahu bagaimana perasaan Bunga, dari caranya menatap wajahku dengan senyum yang merekah khas seorang Bunga ia kerap berkata.
" Kamu lucu " , walaupun sesudahnya aku berkali-kali menatap cermin dan bertanya dalam hati,
'dimana lucunya sih gue?'
Tapi begitu lah Bunga, aku hanya perlu mengerti tanpa harus bertanya berkali-kali.

Hari demi hari yang kami lewati bersama dalam satu lingkungan yang sebenarnya sangat membatasi komunikasi kami, tapi apalah arti batas jika melihatnya tersenyum dari kejauhan saja aku sudah puas?
Tiba-tiba terbersit dalam pikiranku,
' Apa sekarang gue udah mulai suka sama Bunga?'
Kalau pun iya maka biarlah. Toh memang awalnya kami direstui untuk bersama.

Singkat cerita,

Bunga tumbuh layaknya mawar merah di taman bunga yang hampir mati.  Ia menjadi simbol kecantikan dan mengalihkan pandangan semua mata juga menjadi titik balik bahwa sesungguhnya kehidupan itu masih ada.
Bunga ku bukan lagi hanya milikku, tapi juga milik semua makhluk berpanca indra yang dapat melihat, merasakan, keindahannya.

Yang aku sadari sekarang adalah bahwa diam ku ternyata menusukku.
Dengan berpikir sebatas aku tahu Bunga menyayangiku dan aku menyayangi Bunga semuanya akan baik-baik saja.
Namun gadis anggun bernama Bunga sang pencuri hati yang ku kira begitu istimewa dan berbeda aku membuatnya menjadi milik temanku sendiri dengan untaian kata yang ku rangkai dan ku tulis sendiri.
Dan sungguh malang nasibku.. dia, gadis yang dulu ku kenal, kemudian berteman dan kini mulai ku sayang rela melepaskan tangan ku demi menerima uluran tangan orang yang bahkan untuk menyatakan perasaannya sendiri saja masih membutuhkan bantuanku.
Hati ku hancur.
Tapi ku sadari andilnya aku dalam kehancuran ini.
Aku suka Bunga, Aku sayang dia, dan aku simpan ia dalam hati.
Ya..hanya dalam hati dan tidak satu pun orang tahu.
Hanya sebatas keegoisan ku saja yang sempat berpikir
' Harusnya Bunga tahu, tanpa harus gue nyatain'
Tapi nyatanya toh Bunga hanya perempuan biasa yang butuh kepastian.
Maka biarlah, ku rela kan Bunga untuk menikmati kehidupannya yang baru dengan seseorang yang sejujurnya sepenuh hati akhirnya aku benci.

Hari-hari ku terus berjalan dengan atau tanpa Bunga.
Ia yang sudah menjadi milik orang lain, dan aku yang masih menyesali sikap pengecutku.
Tapi aku coba jalani, menjadi pecinta diam-diam mencuri-curi pandang dan menuliskan surat-surat yang bahkan tidak pernah sampai.

Hingga sampai akhirnya aku tahu bahwa Bunga tidak pernah benar-benar bahagia bersama kekasihnya lalu lebih memilih untuk mengakhiri semuanya.
Aku tidak senang pun tidak sedih, hanya merasa lega.
Karena kebahagiaan Bunga kini menjadi begitu penting.
Ada didekatnya, memberinya semangat seperti yang ia pernah lakukan untukku hanya itu yang ingin ku lakukan setidaknya sekarang.
Menjadi kekasih atau pun sahabat aku tak lagi peduli.

Deraian air mata yang tumpah dipundak ku beberapa waktu lalu bahkan masih terasa hangat, seraya Bunga mengatakan
"Maafin aku ka"
Aku hanya tersenyum, tidak dapat berkata-kata.
Ku biarkan Bunga menangisi kesedihannya dengan ku disampingnya.

Orang bilang, orang baik selalu punya banyak musuh.
Entah kata-kata ini asalnya dari mana, tapi memang benar dan aku merasakan!

Setelah cerita memilukan tentang putusnya Bunga, ada orang baru yang ingin mencoba untuk mendapatkan hatinya.
Ya..sebut saja dia musuh ku, atau lebih baik menyebutnya orang yang selalu iri dengan hidupku. Dengan keluargaku, dengan prestasiku, dan dengan adanya Bunga disisiku.
Namun ketika niat sejak awal sudah 'salah' maka jalan yang dipempuh pun juga 'salah'. Ya tujuan awalnya bukan untuk menyayangi Bunga tapi untuk membuatku terpuruk.
Bunga ku yang malang..
Tepat di hari ulangtahun ku yang ke 17, Bunga akhirnya berpacaran dengan orang itu. Orang yang selalu iri dengan hidupku. Orang yang selalu takut aku berhasil padahal tidak lain hanyalah karena ia sendiri takut gagal. Orang-orang seperti itu hanya tidak punya cukup kepercayaan diri hingga harus menjatuhkan orang lain. Menyedihkan.

'Bunga, apa sesulit ini untuk menganalmu lebih jauh karena pada akhirnya hanya membuat ku jatuh dan kamu rapuh. Walaupun akan menyakitkan setidaknya akan lebih baik jika melihatmu bersama dengan orang yang benar-benar menyayangimu'
Lirih ku dalam hati setelah mengingat apa yang terjadi pada Bunga. Dan juga pada ku.
Kebodohanku yang sejak awal tidak memberitahu yang sebenarnya, yang tidak dapat lebih cepat memahami perasaan ku sendiri.
Dan keegoisan Bunga yang dengan mudah menerima hati orang lain tanpa memandangku lebih dalam.
Tapi baiklah..semua yang terjadi dalam hidup pasti untuk sebuah alasan.

Maka ketika Bunga tarik tanganku menjauh dari keramaian dihari kelulusan siang itu aku hanya bisa berkata..
"Aku sayang kamu Bunga, lebih dari yang kamu tahu. Tapi sekarang sudah terlambat, jangan tanya 'kenapa terlambat?' karena kamu tau jawabannya kamu ngerti Bunga dan ga perlu aku jelasin."
Kemudian Bunga memelukku erat lagi-lagi sambil menangis di pundakku berusaha untuk berkata-kata meski terdengar samar
"Tapi kaka ga pernah kasih kepastian ke aku, ga pernah membuat kita benar-benar nyata. Aku sadar aku salah ka dan sekarang aku minta maaf aku mau kaka disamping aku".
Ku lepas tangannya yang memeluk ku,
"Maaf Bunga semua udah terlalu terlambat buat aku"
Kemudian ku tinggalkan ia tenggelam dalam tangis dan pikirannya sendiri.

Mungkin aku tidak ditakdirkan bersama Bunga. Ia tidak cocok untuk ku atau mungkin sebaliknya, maka perjodohan yang sedari awal tidak aku inginkan lebih baik berhenti disini sebelum aku dan Bunga semakin jauh.

Namun setidaknya terimakasih Bunga, kamu ajarkan aku cara menyayangi seseorang, kemudian belajar untuk coba melepaskannya.
Berkat kamu aku dewasa. Aku dewasa sekarang.
Dan kamu, tetaplah menjadi Bunga mawar, bukan lili bukan pula matahari tapi mawar.
Yang begitu indah dipandang dari kejauhan namun begitu berduri ketika dekat.
Karena dengan cara seperti itu lah kamu dapat melindungi dirimu sendiri. Tanpa aku.

True story, inspired by: EA

1 komentar: