Aku, putih.
Yang lain, hitam.
Dia, merah kuning hijau biru ungu orange coklat abu-abu marun dongker pink toska krem violet jingga nila.
Rangga, seperti itulah dia.
Menjadi warna-warni ditengah bersihnya putih atau pekatnya hitam.
Menjadi penyeimbang sekaligus pembeda antara ia dengan yang lain.
Penyegar dikala keseragaman yang terlalu biasa menjadi gaya hidup.
Meski aku menjadi putih sementara yang lain hitam, ku rasa aku masih dapat diterima dengan baik.
Kombinasi hitam dan putih bukannya menjadi sesuatu yang elegan?
Yaa..aku memang tidak seberani Rangga untuk menjadi begitu berbeda.
Aku sering mencuri-curi pandang kepadanya, menantikan apa yang akan ia pakai hari ini?
Hijau kah? Merah kah? Atau gabungan warna pelangi kah?
Rangga memang bintang untuk ukuran perbedaan dan menjadi beda, ia bahkan layak diberi predikat salju gurun karenanya.
Ketika ia melintasi keramaian, semua mata akan menoleh mungkin sesekali berbisik,
"Liat deh aneh banget"
Atau
"Lucu yaa"
Atau mungkin
"Unik nih orang"
Atau bisa saja yang lebih kejam
"Apasih pengen banget jadi pusat perhatian"
Tapi untungnya Rangga punya telinga yang tumpul, muka yang tebal, dan pandangan yang lurus.
Ia tidak pernah goyah hanya dengan kata-kata seperti itu, setidaknya sikap acuh tak acuhnya berguna pada saat seperti ini.
Seperti Rangga yang tidak peduli dengan cibiran orang lain aku pun sama.
Aku tidak peduli lagi, dengan warna hitam dengan gaya anak muda sekarang kemeja, jeans, sneakers, dengan topi yang dihadapkan kebelakang.
Atau hitam lainnya dengan sekedar memakai kaos, celana jeans, sendal jepit, tanpa topi.
Mereka hanya terlihat seperti ekor yang terpisah merajuk pada satu kepala dan berakhir sama.
Dan diantara semua itu, Rangga mampu tampil berbeda. Ia menjadi kepala untuk gayanya sendiri, atau lebih tepatnya untuk hidupnya sendiri.
Aku tahu, aku pasti sudah dibutakan oleh Rangga.
Entah itu suka entah itu kagum, itu lah yang membuat Rangga seolah selalu bersinar sekalipun dengan cahayanya yang mulai meredup.
Namun setidaknya, ada aku yang akan selalu mengingat betapa menyilaukannya cahaya seorang Rangga pada saat pertemuaan pertama.
Seperti yang selalu aku bilang Rangga adalah bintang setidaknya dikehidupannya, ia membandrol harga dirinya lebih tinggi dari orang lain. Dan aku pun tidak cukup berani bahkan untuk sekedar menyapanya, apalagi bermimpi bersanding dengannya.
Kemudian aku yang hanya bisa menatapnya dari kejauhan, merasakan debar jantung tak beraturan bahkan dari jarak tiga meter kebelakang, kesamping, atau pun kedepan, meskipun begitu setidaknya aku harus berterimakasih. Rangga membuat pekerjaanku sebagai pengagum rahasianya menjadi mudah, karena aku dapat dengan mudah menemukan sosok Rangga, seorang Rangga, ditengah banyaknya orang.
Tidak memiliki tidak apa, ia tidak mengenali ku karena aku nyaris sama dengan yang lain tidak apa, mengingat dengan melihatnya dari kejauhan saja aku sudah tidak karuan sendiri. Jantung berdebar, berkeringat, telapak tangan terasa dingin, tapi bukankah dengan seperti itu tandanya aku hidup?
Pada akhirnya, hidup Rangga mampu membuatku hidup.
Luar biasa.
Bayangkan saja, terkadang ia memakai topi caping meski berkalungkan jerami disaat berjalan dipinggiran kota.
Yang lain tertawa, tapi ia diam. Bukan, bukan karena ia tidak peduli.
Ia hanya yakin dengan menjadi dirinya sendiri ia akan lebih hidup,
"Seperti ini lah gue"
Begitu lah yang kerap ia ucapkan, kala kami tanpa sengaja bertemu pagi itu.
Aku hanya tersenyum, memvisualisasikan kembali dirinya yang terlihat begitu unik. Tapi entah kenapa, hal itu justru terlihat cocok dengannya seperti tidak ada hal yang coba untuk dipaksakan semua terlihat begitu alami, natural.
Rangga, ia mungkin mengenalku hanya sebagai sang putih yang takut terkena noda, atau tidak ingin bercampur dengan warna lain karena takut luntur.
Tapi lebih dari itu, sebenarnya aku hanya menunggu agar ia rela sedikit berbagi begitu banyak warna yang ia miliki agar putihku tak lagi terlihat begitu kosong begitu hampa, tidak bernyawa.
Meski pertanyaannya, sudikah dia?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar